Pemuda Muhammadiyah: Trump akui Jerusalem lahirkan kekerasan

Pemuda Muhammadiyah: Trump akui Jerusalem lahirkan kekerasan

Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, berdiri di belakang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memegang proklamasi yang ia tanda tangani bahwa Amerika Serikat mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memindahkan kedutaan besarnya ke sana dari Tel Aviv. Trump katakan itu saat berpidato dari Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/12/2017). (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Simanjuntak, mengatakan, sikap jelas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel berpotensi melahirkan kekerasan yang lebih besar, terutama di Timur Tengah.

Sejak lama isu ini dihadapi banyak presiden Amerika Serikat, semisal sejak masa pemerintahan George Bush Senior hingga Barack Obama. Namun semuanya tidak mau menempuh langkah mengakui secara terbuka sebagaimana dilakukan Trump, bahwa Jerusalem itu ibu kota Israel. Mereka sangat paham resiko besar yang dihadapi pada skala global.

"Bagi kami, apa yang dilakukan Amerika Serikat adalah provokasi untuk melahirkan konflik, terorisme, radikalisme yang lebih besar di Timur Tengah," kata Simanjuntak, di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan, tindakan Trump menunjukkan negara itu miskin komitmen untuk menjaga perdamaian dunia. Amerika Serikat justru menjadi produsen provokasi konflik di Timur Tengah dan dunia melalui tindakan mendirikan kedutaan besarnya di Jerusalem dari selama ini di Tel Aviv.

"Terang Amerika Serikat saat ini tidak? Merawat komitmen perdamaian dunia, bahkan justru terus menjadi provokasi konflik-konflik lebih besar terjadi. Tindakan Amerika Serikat itu memperkuat asumsi bahwa Amerika Serikatlah sesungguhnya produsen radikalisme dan terorisme," kata dia.

Dia juga mendesak Indonesia agar memainkan peran diplomasinya guna mengatasi krisis Yerusalem itu terlebih Indonesia memiliki posisi diplomasi yang relatif bisa diterima banyak negara.
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017