Tutup karena corona, London Zoo minta bantuan untuk hewan

Tutup karena corona, London Zoo minta bantuan untuk hewan

Pengunjung mengenakan masker di Kebun Binatang Beijing, China, Selasa (24/3/2020). Wahana tersebut kembali dibuka sebagian setelah ditutup akhir Januari lalu akibat wabah COVID-19. ANTARAFOTO/REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/foc.

London (ANTARA) - Tempat wisata London Zoo ditutup untuk umum karena wabah virus corona namun kehidupan sekitar 18.000 hewan yang tinggal di sana harus tetap berlangsung.

Kebun binatang tertua di dunia itu untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua ditutup karena London dikenai lockdown (karantina wilayah) untuk memerangi virus tersebut.

London Zoo, yang dibuka bagi kalangan ilmuwan pada 1828 dan untuk umum pada 1847, merupakan salah satu tujuan wisata paling disukai di ibu kota Inggris itu.

Namun seperti semua sektor di kota itu, London Zoo telah mengalami dampak dari krisis virus corona sehingga kekhawatiran meningkat menyangkut nasib hewan-hewan yang berada di sana.

Tidak seperti museum atau galeri seni, kebun binatang tidak bisa sekadar ditutup.

Baca juga: Bali Zoo tutup kunjungan wisata sementara antisipasi COVID-19
Baca juga: Kebun binatang London sambut tiga bayi harimau sumatera


Hewan-hewan yang dipelihara di sana sangat membutuhkan penanganan, baik binatang besar seperti singa, gorila, zebra, dan jerapah maupun kecoak Madagaskar yang mendesis, atau semua hewan berukuran di antaranya.

Kebun binatang adalah bisnis mahal dan padat karya. Tanpa pemasukan dari penjualan tiket harian, penutupan dalam waktu lama bisa menjadi mimpi buruk.
Tahun lalu, pendapatan dari tiket masuk London Zoo dan Whipsnade Zoo ZSL tercatat 27,8 juta pound (sekitar Rp492,6 miliar).

Selain itu, masalah logistik dihadapi pasukan kecil beranggotakan penjaga kebun binatang, dokter hewan, staf keamanan dan darat untuk masuk ke situs Regents Park, jika mereka belum dipaksa untuk mengisolasi diri.

Dengan keadaan itu, tidak mengejutkan bahwa London Zoo meminta sumbangan.

"Biasanya, kami sangat bergantung pada dukungan publik, jadi kalau orang-orang tidak berkunjung, tidak ada pemasukan," kata kepala operasi ZSL Kathryn England, kepada Reuters pada Rabu.

"Kami benar-benar harus mencari cara lain untuk mendorong orang-orang memberikan dukungan dan sumbangan.

"Apa yang penting adalah bahwa kami telah membuat perencanaan untuk memastikan staf kami bisa tetap datang dan mengutamakan kesehatan serta kesejahteraan hewan-hewan," katanya.

"Hewan-hewan kami ini makannya banyak dan kami harus memastikan ketersediaan rantai pasokan, makanan berkualitas tinggi. Apakah itu buah-buahan dan sayuran dari Covent Garden, atau daging, pasokan perlu selalu ada."

Untuk memastikan mereka bisa menjalankan tugas, banyak dari 50 anggota staf harian kebun binatang yang memilih tinggal di Lion Lodges. Tempat penginapan di kebun binatang itu biasanya menampung tamu-tamu, yang bermalam karena ingin mendapat pengalaman "menginap di kebun binatang".

"Mereka tidak diklasifikasikan sebagai pekerja kunci tetapi mereka sangat penting bagi kami," kata England.

"Mereka adalah staf yang berdedikasi tinggi" katanya. "Beberapa anggota tinggal di lokasi untuk memastikan hewan-hewan mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Kita perlu memastikan semua seluruh staf bisa menjalankan tugasnya."

Untuk menjaga kesehatan hewan, para penjaga kebun binatang mengenakan pakaian pelindung, seperti masker dan sarung tangan.

Sumber: Reuters

Baca juga: Pengunjung Solo Zoo pada tahun baru membludak
Baca juga: Owa jawa "Bali Zoo" dilepasliarkan ke Cagar Alam Jawa Barat

 
Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020