Kelompok pro-Beijing cabuti dinding protes Hong Kong, risiko bentrok

Kelompok pro-Beijing cabuti dinding protes Hong Kong, risiko bentrok

Pendukung pro China mengibarkan bendera di sebuah pusat perbelanjaan di Harbour City, Hong Kong, China, Rabu (18/9/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva/djo

Hong Kong (ANTARA) - Sekelompok pendukung China mencabuti "Lennon Walls" yaitu pesan-pesan protes anti-pemerintah di seluruh Hong Kong pada Sabtu, meningkatkan kemungkinan bentrokan dengan para pendukung demokrasi dan merupakan satu lagi masalah akhir pekan.

Pada pertengahan pagi, lusinan pendukung Beijing mulai merobohkan mosaik-mosaik besar dari catatan-catatan penuh warna yang menyerukan demokrasi dan mencela campur tangan Cina yang dianggap campur tangan di bekas jajahan Inggris.

Instalasi itu telah berkembang di pusat keuangan Asia, di halte bus dan pusat perbelanjaan, di bawah jembatan dan di sepanjang trotoar pejalan kaki.

Mereka juga kadang-kadang menjadi pusat kekerasan di tiga bulan kerusuhan kota.

Protes Hong Kong mulai pada bulan Juni terkait undang-undang, yang sekarang ditarik, yang akan memungkinkan orang untuk dikirim ke Cina daratan untuk diadili. Sejak itu, tuntutan meluas menjadi seruan untuk hak pilih universal.

Seorang legislator kota pro-Beijing, Junius Ho, yang telah menjadi kritikus vokal atas protes, telah mendesak para pendukungnya untuk membersihkan sekitar 100 "Lennon Walls" di sekitar kota pada hari Sabtu.

Dinding-dinding itu dinamai seperti Dinding John Lennon di Praha yang dikuasai komunis pada 1980-an yang ditutupi dengan lirik Beatles dan pesan-pesan politik.

Namun, dalam pesan yang diunggah Jumat malam di halaman Facebook-nya pada hari Jumat, Ho mengatakan "demi keamanan" Lennon Walls tidak akan dibersihkan, hanya jalan-jalannya saja.

"Kami akan membersihkan lingkungan dengan sikap damai dan rasional," katanya.

Para pengunjuk rasa anti-pemerintah marah tentang apa yang mereka lihat sebagai campur tangan oleh Beijing pada formula "satu negara, dua sistem" Hong Kong yang memastikan kebebasan tidak dinikmati di daratan, termasuk hak berkumpul dan peradilan yang independen.

China mengatakan pihaknya berkomitmen pada pengaturan "satu negara, dua sistem" dan menyangkal ikut campur. Ia menuduh pemerintah asing termasuk Amerika Serikat dan Inggris, menghasut kerusuhan.

Demonstrasi telah mengambil ritme mereka sendiri selama berbulan-bulan dan sekarang cenderung memuncak pada akhir pekan, seringkali dengan aktivis anti-pemerintah, banyak yang bertopeng dan berpakaian hitam, melemparkan bom bensin ke polisi, menghancurkan stasiun metro, memblokir jalan bandara dan menyalakan api jalanan .

Kadang-kadang, mereka dihadang oleh para pendukung Beijing yang memegang pentungan.

Lebih banyak protes pro-demokrasi direncanakan akhir pekan ini termasuk duduk di stasiun kereta bawah tanah Yuen Long, menandai dua bulan sejak aktivis diserang oleh massa di sana.

Operator transit kota, MTR Corp, mengatakan akan menutup stasiun kereta api di dekat lokasi potensial protes, termasuk Yuen Long dan Tuen Mun, untuk alasan keamanan mulai dari sore hari.

Para pengunjuk rasa mengatakan pada Jumat bahwa sementara mereka tidak menginginkan kekerasan, mereka akan membela diri jika diserang.

Baca juga: Aksi protes di Hong Kong akan diwarnai perayaan lentera
Baca juga: China: status Hong Kong tak dapat diganggu gugat
Baca juga: Hong Kong tegang pascabentrokan akhir pekan
Pewarta : Maria D Andriana
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019