Bandung (ANTARA) - Pengelolaan sampah rumah tangga secara cermat sangat penting untuk menjaga kesehatan lingkungan keluarga serta timbulnya berbagai penyakit. Memilah sampah rumah tangga sesuai jenisnya merupakan langkah krusial untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melindungi kesehatan anggota keluarga.
Penumpukan sampah tanpa pemilahan berisiko buruk bagi kesehatan karena menjadi sarang berkembang biaknya organisme pembawa penyakit. Selain itu, tumpukan sampah basah dapat mengundang lalat dan tikus yang berpotensi menyebarkan kuman ke makanan keluarga.
Melalui artikel yang dipublikasi Halodoc, lingkungan yang kotor dapat mengancam sistem kekebalan tubuh manusia. Selain menurunkan daya tahan tubuh, tumpukan sampah basah juga dapat mengundang lalat dan tikus yang berpotensi menyebarkan kuman ke makanan keluarga.
Berikut langkah praktis pengelolaan sampah di rumah berdasarkan panduan Halodoc:
- Sediakan minimal dua tempat sampah terpisah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik agar limbah kering tidak kotor serta menimbulkan bau.
- Terapkan prinsip reduce (mengurangi) dengan membawa tas belanja kain dan botol minum sendiri saat beraktivitas guna memangkas penggunaan plastik sekali pakai.
- Terapkan prinsip reuse (menggunakan kembali) dengan memfungsikan kembali barang bekas, seperti botol kaca menjadi wadah bumbu atau pakaian lama sebagai kain lap pembersih.
- Terapkan prinsip recycle (mendaur ulang) dengan mengumpulkan sampah anorganik yang sudah dipilah untuk disetorkan ke bank sampah atau pengepul barang bekas.
- Campurkan sisa sampah sayuran dan kulit buah dengan sedikit tanah di dalam wadah tertutup kencang hingga terurai menjadi pupuk kompos.
- Hancurkan obat kedaluwarsa, lalu campurkan dengan ampas kopi dalam wadah tertutup rapat, serta gunting tali masker bekas sebelum dibuang.
Penerapan kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga pada akhirnya menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan keluarga dan kelestarian lingkungan. Melalui aksi sederhana di dapur, risiko penularan penyakit dan pencemaran lingkungan dapat ditekan secara maksimal.
Pewarta: Qya Aidi AdhaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.