Bandung (ANTARA) - Pengelolaan minyak jelantah menjadi aspek penting dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah tangga dan kelancaran saluran air kota. Kebiasaan membuang limbah minyak secara sembarangan dapat memicu penyumbatan infrastruktur drainase sekaligus mencemari ekosistem saluran air bersih.

Minyak jelantah yang dibuang langsung ke dalam wastafel akan membeku dan menempel pada saluran dinding pipa seiring berjalannya waktu. Penumpukan lemak ini tidak hanya memicu penyumbatan saluran pembuangan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap di sekitar rumah.

Tak berhenti di ranah rumah tangga, limbah minyak yang terbawa aliran air hingga ke sungai juga membawa dampak buruk. Melalui artikel resmi yang dipublikasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon, limbah minyak yang terbuang ke sungai dapat membentuk lapisan di permukaan air sehingga menghalangi oksigen dan sinar matahari masuk ke dalam air yang dibutuhkan ekosistem akuatik.

Untuk mencegah hal tersebut, DLH Kota Cirebon membagikan sejumlah panduan bagi masyarakat dalam mengelola minyak jelantah rumah tangga secara bijak. Berikut langkah sederhana yang dapat dilakukan:

  • Dinginkan minyak jelantah, kemudian simpan dalam wadah tertutup, seperti botol bekas atau jerigen.
  • Jangan buang minyak ke saluran air atau tanah.
  • Minyak jelantah yang belum terlalu hitam dan bau tengik masih bisa disaring dengan kain bersih untuk digunakan kembali.
  • Minyak jelantah dapat dikelola menjadi produk bermanfaat, seperti biodiesel, sabun, dan lilin.
  • Salurkan jelantah ke pengepul atau bank minyak jelantah.

Dengan menerapkan panduan tersebut, masyarakat dapat berkontribusi langsung dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Pengelolaan minyak jelantah yang tepat kini menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi ekosistem.



Pewarta: Qya Aidi Adha
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026