Kuningan (ANTARA) - Komoditas kopi di kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kini terus didorong agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Kualitas biji kopi menentukan cita rasa, sementara penerimaan pasar berpotensi mengerek harga sekaligus memperluas jangkauan distribusi.

Upaya peningkatan nilai tambah ini diterjemahkan oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon melalui penguatan kualitas dari hulu hingga hilir, mulai dari tata kelola kebun hingga produk olahan.

Namun, sebelum melihat lebih jauh peran pemerintah daerah dan Bank Indonesia saat ini, ada kisah masa lalu yang menarik untuk ditelusuri.

Dahulu, minuman kopi belum begitu lekat dengan keseharian masyarakat, khususnya di Karesidenan Cirebon, termasuk Kabupaten Kuningan.

Dokumen dari laman Delpher yang dihimpun ANTARA mencatat bahwa pada 1938, kopi bahkan dipropagandakan secara keliling dari desa ke desa agar masyarakat mengenal dan terbiasa mengonsumsinya.

Komite Propaganda Kopi Hindia Belanda pada 1936, seperti dimuat dalam De Avondpost, menggerakkan kampanye tersebut dengan membawa pesan tentang konsumsi kopi dan kesehatan.

Masyarakat mendapat informasi mengenai manfaat minum kopi dibandingkan air yang tidak dimasak. Kampanye itu bertujuan pula mengurangi penggunaan bahan pengganti komoditas tersebut.

Di balik pesan kesehatan tersebut terdapat hitungan pasar. Produksi kopi di Hindia Belanda kala itu mencapai sekitar 3 juta pikul, dengan sekitar 1 juta pikul berasal dari perkebunan Eropa. Sisanya dipanen di perkebunan warga.

Berdasarkan arsip sejarah, disebutkan bahwa sekitar dua pertiga produksi kopi diarahkan untuk ekspor, sedangkan sepertiga dikonsumsi di dalam negeri.

Konsumsi domestik kemudian menjadi sasaran. Pasar di dalam negeri dinilai masih mampu menyerap lebih banyak kopi dari hasil produksi.

Bila ditarik lagi ke belakang, risalah tanaman kopi di Karesidenan Cirebon, tepatnya di Kuningan, bahkan sudah tercatat puluhan tahun sebelum propaganda itu berjalan.

Pada 1893, De Locomotief mencatat kopi varietas liberika mulai ditanam masyarakat Kuningan di kebun dan lahan garapan.

Dalam tiga hingga empat tahun, ratusan ribu pohon disebut telah ditanam masyarakat di berbagai wilayah.

Pada 1899, Soerabaijasch Handelsblad mencatat penanaman kembali 181.250 pohon kopi di kebun Karesidenan Cirebon, termasuk 30.300 pohon liberika. Sebanyak 11.922 rumah tangga terlibat dalam budidaya kopi.

Pada 1901, kebijakan budidaya mulai bergeser. Pihak kolonial mendorong penanaman secara sukarela setelah kewajiban tanam paksa dihentikan.

 

Mengenali kopinya

Lebih dari satu abad berlalu, kopi dari kaki Gunung Ciremai kembali mencari tempatnya. Petani merawat tanaman, menjaga mutu, mengolah biji, lalu mengejar harga yang sepadan dengan kualitas.

Di tengah kebun berkabut kawasan Palutungan, Kabupaten Kuningan, Taufik Hernawan berdiri di samping tanaman kopi yang tumbuh subur di lereng Gunung Ciremai pada Kamis (10/9).

Beberapa tahun lalu, pria berkulit sawo matang itu, sempat memendam kegelisahan dalam benaknya terkait kopi di lereng Gunung Ciremai.

Pria yang kini menjadi Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Buana Ciremai, menyebutkan persoalan itu bermula dari sesuatu yang mengakar, yakni identitas asal komoditas.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Buana Ciremai Taufik Hernawan (kanan) saat menunjukkan pohon kopi di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026). (ANTARA/Fathnur Rohman)

Kopi yang tumbuh di Kuningan, kata dia, kerap berpindah tangan dalam bentuk mentah, lalu dipasarkan menggunakan nama daerah tempat pembelinya berada.

Kondisi itu membuat asal geografis produk ikut tersamarkan. Berangkat dari hal tersebut, Taufik bersama kelompoknya kemudian mengajak petani mengenali kembali potensi yang tumbuh di kebun mereka.

Sekitar tahun 2015, dikisahkannya, sebagian petani bahkan belum mengetahui bahwa tanaman di kebun mereka merupakan arabika. Varietas tersebut lebih dikenal sebagai kopi melinjo, karena bentuk buahnya ketika matang menyerupai melinjo.

Pengetahuan mengenai hasil panen pun masih terbatas. Petani menjual biji dalam kondisi mentah sehingga tidak mengetahui karakter rasa dari tanaman yang mereka rawat sendiri. Pengolahan dan pemasaran kemudian berlangsung di luar kendali mereka.

Taufik pun mulai menghimpun petani untuk memperbaiki cara budidaya sekaligus mengenalkan pengolahan. Berkat hal tersebut pula tercetus Java Buana Ciremai, jenama kolektif yang menghimpun kelompok tani untuk memasarkan kopi, terutama arabika dari lereng Gunung Ciremai.

Nama tersebut diambil dari lokasi perkebunan di Gunung Cakra Buana Majalengka, serta Gunung Ciremai.

 

Jaga mutu sejak dari kebun

Diakuinya, kualitas kopi dari Gunung Ciremai ditentukan sejak tanaman dirawat di kebun, jauh sebelum biji sampai ke tangan pembeli.

Atas dasar tersebut, MPIG Buana Ciremai mengajak petani memperhatikan pertumbuhan tanaman, pemangkasan, pemupukan, hingga cara memanen buah.

Ia mencontohkan tunas yang tidak produktif, dipangkas sekitar dua bulan sekali. Perawatan tersebut dilakukan supaya mengarahkan nutrisi tanaman kepada cabang yang menghasilkan buah.

“Kalau tunas tidak produktif dibiarkan, nutrisi tersedot ke situ. Jadi harus rajin dipangkas supaya fokus ke cabang produktif,” katanya.

Pemupukan menggunakan sekitar 80 persen bahan organik dan 20 persen kimia. Pertumbuhan tunas dipengaruhi pemupukan sehingga pemangkasan harus mengikuti perkembangan tanaman.

Untuk meningkatkan populasi tanaman, petani mulai menerapkan sistem tanam pagar dengan jarak sekitar satu meter dan populasi mencapai 2.500 pohon per hektare, dibandingkan pola konvensional sekitar 2,5 meter.

Sistem tersebut mengikuti teknologi budidaya yang berkembang di Brasil. Sebab, secara teori, produksinya bisa mencapai tiga kali dibandingkan pola konvensional.

Pada saat panen, buah arabika dipetik ketika seluruh permukaannya telah merah merona. Karena kematangan tidak seragam, pemetikan dilakukan secara selektif setiap pekan selama dua hingga tiga bulan.

Satu hektare ditargetkan menghasilkan sekitar 10 ton buah kopi merah. Setelah melalui pengolahan dan pengeringan, jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar dua ton biji hijau atau green bean.

“Petik merah itu wajib. Kalau ada yang belum merah, jangan dipetik karena kualitasnya berbeda,” ujarnya.

Ia mengemukakan kebutuhan tenaga panen idealnya sekitar lima orang per hektare, tetapi dapat mencapai 10 orang ketika produksi sedang tinggi dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Arabika mulai belajar berbuah sekitar usia 18 bulan dan dapat produktif lebih dari 20 tahun. Peremajaan dilakukan sekitar setiap 10 tahun melalui pemangkasan untuk menumbuhkan cabang baru.

Sementara itu, robusta dan liberika dapat bertahan lebih dari 100 tahun. Tanaman yang semakin besar bahkan dapat menghasilkan lebih banyak buah selama perawatannya tetap terjaga.

Perbaikan mutu ikut mengubah nilai jual. Arabika pada kelas terendah berada sekitar Rp170 ribu per kilogram, sedangkan robusta petik merah dalam bentuk biji hijau sekitar Rp85 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram.

Ia menjelaskan biji sangrai memiliki nilai beberapa kali lebih tinggi daripada biji hijau. Meski demikian, sebagian besar ekspor kopi Gunung Ciremai masih berupa green bean karena kapasitas pengolahan sangrai belum sebesar permintaan pasar.

Pasar kopi tersebut telah mencapai pasar global. Pengiriman yang tercatat antara lain tiga ton ke Taiwan dan dua ton ke Amerika Serikat.

Produksi kopi yang dihimpun petani pun meningkat dari sekitar 200 ton menjadi 700 ton, kemudian 1.300 ton dan kini mencapai sekitar 1.700 ton per tahun.

“Pasarnya sudah sampai luar negeri, tetapi ekspor masih terbatas karena jumlah petani dan luas lahannya belum sebanding dengan permintaan,” katanya.

Ekosistem kopi Ciremai kini melibatkan sekitar 50 kelompok tani atau 500 orang. MPIG Buana Ciremai memperketat standar operasional prosedur pascapanen untuk menjaga konsistensi mutu dan peluang harga.

Pendampingan dari KPw BI Cirebon turut mencakup edukasi, peralatan pengolahan, penanganan hama bersama tenaga ahli, mesin barista, serta pertemuan bisnis dengan calon pembeli.

Petani pun difasilitasi belajar ke Gayo, Aceh, untuk melihat langsung sistem pertanian dan industri kopi. Pendampingan tersebut, menurut Taufik, paling terasa dalam membuka akses pemasaran.

Pada sisi lain, pengembangan kopi Gunung Ciremai terlihat pula dari usaha yang dikelola Robi, sekaligus Ketua Kelompok Tani Pasir Tengah serta anggota Buana Ciremai dan Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI).

Di kelompoknya, tanaman kopi mulai mengembangkan kebun pada awal 2000-an dan berlanjut sejak 2002. Penanaman awal mencapai 10.000 pohon di lahan seluas 16 hektare.

Kini, kemitraan petani mencakup hampir 25 hektare dengan produksi sekitar 20-25 ton buah kopi per tahun. Sekitar 70 persen tanaman merupakan arabika, sedangkan sisanya robusta.

Kebun tersebut berada pada ketinggian sekitar 750-800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Sekitar 30 petani kini terlibat, meningkat dari lima hingga 10 orang pada masa awal pengembangan.

Produk kopi kelompoknya telah dipasarkan hampir ke seluruh provinsi di Indonesia, sedangkan pasar luar negeri mencakup Thailand dan Jepang.

“Kalau arabika, rasanya lebih manis, lembut, dan fruity. Itu yang banyak disukai dari kopi di sini,” kata Robi.

Pengembangan kopi Ciremai akhirnya bertumpu pada dua hal yang saling berkaitan, yakni mutu yang dijaga dari kebun dan pasar yang mampu menghargai kualitas tersebut.

 

Menjembatani

Peran pengembangan kopi dari Gunung Ciremai tidak hanya berjalan di tingkat petani. KPw BI Cirebon mendampingi pengembangan komoditas tersebut dari sektor hulu hingga hilir bersama Pemkab Kuningan.

Kepala KPw BI Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan pengembangan kopi berkaitan dengan dua kepentingan, yakni menjaga stabilitas harga melalui peningkatan produktivitas dan pasokan, serta mendorong komoditas berpotensi ekspor untuk mendukung stabilitas nilai rupiah.

Kopi, lanjut dia, termasuk komoditas yang memiliki peluang besar untuk pasar ekspor sehingga kualitas dan produktivitasnya perlu dikembangkan secara bersamaan.

“Ketika kita bicara ekspor, kopi ini komoditas yang potensinya besar untuk diekspor, sehingga kami mendorong peningkatan produktivitas dan kualitasnya,” katanya.

Pembinaan kelompok petani kopi di Desa Karangsari, Kuningan, misalnya telah berlangsung sejak 2020 bersama pemerintah daerah, dengan materi mencakup budidaya, pascapanen, roasting, cupping specialty coffee, branding, kemasan, dan pemasaran digital.

Pihaknya pun memfasilitasi promosi kopi melalui berbagai kegiatan nasional dan internasional. Salah satunya dengan membawa komoditas asal Gunung Ciremai mengikuti World of Coffee di Bangkok pada 7-9 Mei 2026.

Wihujeng mengatakan peningkatan produksi harus diikuti pengendalian kualitas. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada produktivitas, tetapi berlanjut ke pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah.

“Ketika komoditas semakin meningkat, kami juga perlu memastikan kualitasnya jangan sampai kalah dengan kopi dari daerah lain,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, peningkatan produksi kopi diharapkan menggerakkan kegiatan usaha di sekitarnya. Pengembangan berikutnya diarahkan untuk menghubungkan kebun kopi dengan potensi pariwisata di Kuningan.

Pihaknya melihat wisata edukasi kopi dapat menjadi tahap lanjutan setelah produktivitas dan pengelolaan sektor hulu semakin tertata. Pengunjung nantinya dapat melihat proses budidaya sekaligus menikmati kopi daerah.

“Harapannya, setelah komoditas dari hulunya beres dan produktivitasnya naik, kita bisa angkat juga sisi wisatanya melalui wisata edukasi,” katanya.

Di tingkat daerah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan Wahyu Hidayah mengatakan produksi robusta menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, produksinya mencapai 1.173,39 ton, naik dari 726,03 ton pada 2024.

Sementara itu, produksi arabika relatif stabil dengan produktivitas sekitar 900 kilogram per hektare. Menurut Wahyu, persoalan yang masih perlu dibenahi berada pada pengolahan pascapanen dan standardisasi mutu.

Pengolahan pascapanen menjadi penting karena kopi yang keluar dari kebun belum otomatis memiliki nilai jual tinggi. Penanganan setelah panen menentukan konsistensi mutu yang dibutuhkan pembeli.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, pemerintah daerah bersama sejumlah pihak melakukan pendampingan melalui pembentukan klaster kopi di Desa Karangsari.

Karangsari dipandang memiliki potensi untuk menjadi model pengembangan kopi berbasis kualitas. Kawasan tersebut juga diharapkan menjadi salah satu lokomotif kebangkitan kopi daerah di Kabupaten Kuningan.

Pendampingan diarahkan pada penguatan kualitas, kelembagaan, dan daya saing petani. Dengan pola tersebut, peningkatan produksi diharapkan tidak berhenti pada bertambahnya volume hasil kebun.

Pemerintah daerah mengarahkan pengembangan pada nilai tambah. Kopi lokal diharapkan dapat dipasarkan dalam bentuk produk yang telah melalui pengolahan, sehingga nilai ekonominya lebih besar dibandingkan ketika dijual sebagai bahan baku.

“Produk kopi saat ini tidak hanya menjual komoditas. Tetapi kualitas, cerita, dan pengalaman yang melekat pada produk tersebut,” tuturnya.

Pada masa lampau, komoditas kopi dari Gunung Ciremai pernah diperkenalkan melalui kampanye agar masyarakat mengenal dan mengonsumsinya.

Kini, komoditas tersebut berada pada posisi berbeda, karena dari tingkat petani sampai lembaga negara memperkenalkan kopi melalui mutu dan identitas.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kopi dari Gunung Ciremai, dulu dipropagandakan kini bernilai tinggi

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026