Cirebon (ANTARA) - Sejumlah kelompok tani di Desa Geyongan Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merasakan manfaat Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Pompanisasi setelah bantuan tersebut menyelamatkan sekitar 85 hektare sawah dari risiko gagal panen karena terdampak kekeringan saat musim kemarau.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Arjawinangun Cirebon Sanaji mengatakan wilayah Geyongan menjadi lokasi yang paling terancam kekeringan, sedangkan wilayah lainnya masih berada dalam kategori aman.
“Yang kemarin terancam sampai sekarang terselamatkan semuanya dan petani alhamdulillah bisa panen,” kata Sanaji saat ditemui di area persawahan Desa Geyongan, Cirebon, Kamis.
Ia mengatakan kelompok tani di desa tersebut aktif berkoordinasi dengan pemerintah, setelah melihat tanaman padi mulai mengering dan mengkhawatirkan siklus pertanaman tidak dapat diselamatkan.
Menurut dia, respons pemerintah berlangsung cepat setelah kondisi tersebut disampaikan melalui koordinasi petani, dengan bantuan pompanisasi terealisasi dalam waktu sekitar empat hari hingga satu minggu.
Sanaji menyebut satu unit pompa yang ditempatkan di Desa Geyongan mampu mengairi sekitar 90 hektare sawah, sehingga 85 hektare lahan yang sebelumnya terancam kekeringan dapat diselamatkan dan dipanen.
“Selama setengah bulan mengairi, ini bisa berdampak kepada 90 hektare terairi semuanya. Mencegah gagal panen,” ujarnya.
Ia mengatakan bantuan tersebut diberikan secara spontan karena kondisi di lapangan dinilai mendesak, sementara Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon telah menyampaikan adanya bantuan pompa untuk dua lokasi atau dua kelompok lain dengan kapasitas enam inci.
Sanaji menuturkan area sawah yang diselamatkan belum menghasilkan produksi maksimal karena sebelumnya sempat mengalami kekurangan air, namun petani tetap bersyukur dapat memanen sesuai jadwal.
Ia menyampaikan pula harga gabah di tingkat penggilingan saat ini mencapai sekitar Rp8.300 per kilogram, sedangkan harga pembelian pemerintah (HPP) yang menjadi pembanding sebesar Rp6.500 per kilogram.
Sanaji optimistis ketersediaan air melalui pompanisasi, dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) sehingga lahan yang sebelumnya menunggu hujan untuk ditanami dapat menghasilkan panen hingga tiga kali dalam setahun dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sementara itu, Ketua Forum Petani dan Masyarakat Desa Geyongan sekaligus dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Jaya Masbudi mengatakan sebelum pompanisasi direalisasikan, petani bergantung pada hujan dan embung yang debit airnya tidak mencukupi untuk mengairi sekitar 90 hektare.
“Kalau sebelum ada pompanisasi mungkin gagal panen, sekarang alhamdulillah setelah ada pompanisasi tidak gagal panen,” katanya.
Ia mengatakan air untuk pompanisasi diambil dari aliran rentang dan dialirkan sejauh sekitar 1.500 meter menggunakan pompa hibrida, yang beroperasi dengan panel surya pada siang hari dan listrik token pada malam hari.
“Kondisi setelah pompanisasi memberikan dampak positif karena air dapat mengalir hingga melimpah, sehingga petani tinggal menjaga dan merawat sarana tersebut agar tidak kembali mengalami kekurangan air, sementara tidak terdapat lahan yang mengalami puso,” ucap dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.