Bandung (ANTARA) - Kota Bandung pernah mengalami banjir besar pada Maret 1931 bahkan  tercatat sebagai musibah terbesar dalam kurun dua dekade pada era kolonial. 

Berdasarkan laporan surat kabar Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant terbitan 5 Maret 1931, luapan Sungai Citarum dan anak-anak sungainya melumpuhkan sektor pertanian, pemukiman, hingga akses transportasi vital.

"Bencana ini merupakan yang terbesar dari jenisnya yang pernah terjadi sejak dua puluh tahun terakhir," tulis laporan surat kabar tersebut merangkum skala kerusakan di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Surat kabar itu merinci bahwa air merendam lebih dari 1.100 hektare lahan pertanian, di mana 105 hektare berada di Rancaekek. Di Desa Cijagra Kecamatan Buahbatu, ketinggian air dilaporkan sangat ekstrem hingga "hanya bagian bubungan rumah yang terlihat di atas permukaan atas."

Selain merendam 130 rumah di Dayeuhkolot, luapan Citarum melangkahi jembatan besar di wilayah tersebut dan memutuskan jalur penghubung Bandung—Pangalengan. Surat kabar itu juga melaporkan kondisi darurat di mana petani mengalami kerugian total karena lumbung-lumbung padi yang disiapkan warga terendam air, serta jatuhnya korban jiwa akibat tanah longsor susulan di daerah Pangalengan.

Untuk menangani krisis tersebut, otoritas kolonial menerjunkan Polisi Lapangan (Veldpolitie) dan Pasukan Zeni (Genietroepen) guna membantu proses evakuasi warga dan hewan ternak yang terisolasi.


 



Pewarta: Qya Aidi Adha
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026