Indramayu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengandalkan penerapan teknologi pertanian untuk menjaga produksi padi di tengah kondisi musim kemarau yang berdampak pada ketersediaan air bagi petani.
Bupati Indramayu Lucky Hakim dalam keterangannya di Indramayu, Jumat, mengatakan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu upaya untuk membantu petani tetap produktif ketika menghadapi tantangan cuaca, termasuk kekeringan akibat fenomena El Nino.
"Walaupun sekarang ada El Nino, tentu ada kekeringan, tapi ini bisa menjadi pelipur lara dan optimisme kami," katanya.
Menurut dia, dukungan alat dan mesin pertanian serta sarana produksi dari pemerintah pusat memberikan tambahan kemampuan bagi petani dalam mengelola lahan pada kondisi ketersediaan air yang terbatas.
Ia mencontohkan penerapan teknologi tersebut, dilakukan pada lahan seluas 100 hektare di Blok Suket Baju, Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, melalui program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Pihaknya mendata program itu melibatkan sembilan kelompok tani, satu brigade pangan, dan 93 petani dengan dukungan teknologi untuk menunjang berbagai tahapan budidaya padi.
“Untuk mengatasi persoalan pengairan, petani memanfaatkan pompa dan sistem irigasi perpompaan. Sementara pekerjaan lain dibantu combine harvester dan drone sprayer,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Tanaman Padi Amin Nur mengatakan penggunaan teknologi perlu diikuti pendampingan agar petani dapat memanfaatkannya secara tepat.
Ia mengatakan modernisasi pertanian bukan sekadar mengganti pekerjaan manual dengan mesin, tetapi juga mendorong pola kerja yang lebih efektif sehingga waktu dan tenaga petani dapat dihemat.
Pendampingan penyuluh, kata dia, perlu diperkuat agar penggunaan teknologi dapat diterapkan secara konsisten dalam setiap tahapan budidaya dan tidak berhenti selama program berlangsung.
“Program PM-AAS di Indramayu merupakan bagian dari demfarm nasional seluas 2.000 hektare yang dikembangkan di 14 provinsi,” ujar dia.
Sebelumnya, Pemkab Indramayu telah mendata kebutuhan jaringan irigasi air tanah (JIAT) sebagai bagian dari upaya memperkuat pengairan lahan pertanian yang rentan kekeringan saat musim kemarau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu Sugeng Heriyanto mengatakan sebanyak 63 titik pembangunan JIAT yang diusulkan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Citarum telah disetujui. Sementara 47 titik tambahan masih dalam proses dan pembangunan.
Pembangunan JIAT tersebut diprioritaskan di persawahan tadah hujan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap ketersediaan air, meliputi Kecamatan Gantar, Kroya, Terisi, sebagian Cikedung dan sebagian Gabuswetan.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.