Bandung (ANTARA) - Jurnal pengabdian kepada masyarakat dalam Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 9 (November 2025) menyoroti, uang saku atau penghasilan sering kali habis sebelum sempat ditabung.
Kondisi ini menjadi salah satu tantangan generasi Z di tengah kemudahan transaksi digital yang membuat aktivitas belanja semakin mudah. Kebiasaan konsumtif masih menjadi tantangan bagi remaja, terutama karena pengaruh sosial media dan lingkungan pertemanan yang menjadi dorongan utama untuk bertransaksi secara impulsif. Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik, hal ini dapat mengakibatkan masalah finansial di kemudian hari.
Sementara kesadaran menabung di kalangan remaja masih minim, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, sebanyak 42 persen remaja tercatat memiliki kebiasaan menabung secara rutin. Kurangnya pemahaman dalam mengatur uang juga dapat membuat remaja kesulitan menentukan prioritas pengeluaran.
Salah satu cara sederhana yang dapat diterapkan adalah aturan 50/30/20, yaitu membagi uang sebesar 50% untuk kebutuhan sehari-hari, 30 persen untuk
keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau investasi.
Berbagai tren yang muncul di sosial media membuat remaja semakin mudah mengikuti gaya hidup yang sedang populer. Beragam konten mengenai tren fashion, kuliner, tempat berkumpul, hingga barang unik yang tengah populer dapat meningkatkan ketertarikan remaja untuk mengikutinya.
Selain itu, unggahan teman yang menunjukkan aktivitas atau barang terbaru juga dapat memunculkan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Akibat dari hal ini, remaja terdorong untuk bertansaksi secara impulsif agar tidak tertinggal di lingkungan pertemanannya.
Selain mengatur pengeluaran melalui aturan 50/30/20, untuk menghindari pengeluaran yang berlebih, remaja dapat mulai memilah mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya muncul karena keinginan sesaat.
Langkah lainnya, pencatatan pengeluaran juga dapat membantu remaja memantau penggunaan uang saku atau penghasilan mereka. Pencatatan tersebut dapat dilakukan secara manual maupun melalui aplikasi keuangan digital yang kini banyak tersedia.
Peran lingkungan juga berperan dalam membentuk kebiasaan finansial remaja. Edukasi literasi keuangan melalui keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat membantu remaja memahami pentingnya mengelola keuangan sejak dini.
Menabung bukan berarti harus berhenti mengikuti tren atau menikmati masa muda. Dengan menentukan prioritas, membatasi pengeluaran, dan menyisihkan uang secara rutin, remaja dapat mempersiapkan kondisi keuangan yang lebih baik di masa mendatang.
Pewarta: Karen VirginiaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.