Bandung (ANTARA) - Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI), Tony Sumampau menyebut Burung Ekek Keling Sunda yang dikenal sebagai Ekek Geling Jawa (Cissa thalassina) asal Gunung Pangrango, Jawa Barat bisa dikatakan nyaris punah.

"Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango," katanya dalam acara Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) di Cisarua, Bogor, Sabtu.

Ia menyayangkan kondisi demikian karena adanya perburuan terhadap burung endemik tersebut guna dijadikan burung master atau lebih dikenal burung yang dipelihara khusus untuk melatih suara burung kicau lain.

Karena Burung Ekek Sunda itu memiliki tingkat stres tinggi, hingga saat dijadikan sebagai burung master dia menjadi stress dan berakhir dengan kematian. "Burung ini stresnya cepat hingga nyawanya tidak lama setelah menjadi burung master," tegasnya.

Saat ini pihaknya memiliki empat pasang Burung Ekek Sunda yang merupakan donasi dari warga yang kemudian dikembangbiakkan. "Rencananya empat pasang Burung Ekek Sunda itu akan dilepasliarkan ke Gunung Pangrango," katanya.

Menurut dia, sebenarnya Burung Ekek Sunda bisa menjadi maskot Jawa Barat selain Surili dan Macan Kumbang, karena berasal dari satu daerah yakni Gunung Pangrango.

Seperti diketahui, Burung Ekek Sunda memiliki ciri khas tubuh warna hijau cerah, paruh dan kaki merah terang, serta garis hitam di sekitar mata seperti topeng dan ukuran tubuhnya sekitar 32 sentimeter. Dengan bagian kepalanya paruh merah mencolok hingga dijuluki si paruh gincu.

Habitatnya di hutan pegunungan atau dataran tinggi antara 500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut di Jawa Barat dan sekitarnya. Sedangkan makanan pokoknya antara lain jangkrik, kecoa, ulat, dan katak kecil.

Saat ini, status konservasinya termasuk dalam satwa liar dengan status terancam kritis (critically endangered) karena populasinya di alam sangat sedikit.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: TSI sebut Burung Ekek Keling Sunda nyaris punah

Pewarta: Riza Fahriza
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026