Kota Bandung (ANTARA) - Siang itu, langit Bandung seperti kembali membuka sebuah pintu yang sempat lama tertutup.

Setelah hampir tiga tahun tidak melayani penerbangan komersial menggunakan pesawat jet, tepat pada 14 Agustus 2026 Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara kembali dipadati penumpang yang hilir mudik membawa koper.

Pemandangan itu menjadi hal yang paling ditunggu. Penumpang kembali memenuhi ruang terminal, koper-koper kembali ditarik menuju pintu keberangkatan, sementara suasana bandara perlahan kembali seperti sedia kala.

Momentum itu ditandai oleh kedatangan pesawat Garuda Indonesia rute Denpasar-Bandung yang menggunakan Boeing 737-800 NG dengan cocok khusus bertema perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pesawat yang membawa 162 penumpang tersebut lantas disambut water salute, semburan air dari kendaraan pemadam kebakaran yang membentuk gerbang sebagai simbol penyambutan sekaligus penanda kembalinya penerbangan jet komersial ke Bandara Husein Sastranegara.

Kembalinya pesawat jet menuju Husein bukan sekadar tentang sebuah pesawat yang kembali mendarat di landasan.

Lebih dari itu, ada harapan baru bagi Kota Bandung untuk kembali terhubung dengan berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.

Mati suri

Bandara yang berdiri sejak 1921 itu sebelumnya menjadi salah satu pintu utama menuju Kota Bandung, baik bagi wisatawan maupun mahasiswa dari berbagai daerah yang datang untuk menempuh pendidikan.

Selama bertahun-tahun, bandara tersebut menjadi penghubung berbagai penerbangan domestik dan internasional, sebelum layanan penerbangan komersialnya dihentikan pada 29 Oktober 2023.

Sejumlah rute penerbangan kemudian dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka, sebagai langkah untuk mendorong optimalisasi Kertajati sebagai bandara utama di Jawa Barat.

Namun, perpindahan itu belum serta-merta menghasilkan lonjakan penumpang seperti yang diharapkan.

Di tengah kondisi tersebut, gagasan menghidupkan kembali Husein Sastranegara terus bergulir.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjadi  yang paling lantang menyuarakan agar bandara tersebut kembali melayani penerbangan komersial dengan jangkauan yang lebih luas.

Bagi Farhan, konektivitas udara memiliki kaitan erat dengan masa depan pariwisata serta pendidikan di Kota Bandung.

Pada 2019, tepat sebelum pandemi COVID-19, Bandara Husein Sastranegara mampu melayani sekitar 3,8 juta penumpang dalam setahun. Sekitar satu juta penumpang di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura.

Angka tersebut menjadi bagian dari memori tentang ketika Bandung memiliki akses udara langsung dengan sejumlah kota di dalam dan luar negeri.

Kini, asa untuk mengembalikan kejayaan itu mulai menemukan jalannya.

Reaktivasi

Gagasan reaktivasi Husein mendapat dorongan setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Kota Bandung pada 25 Mei 2026.

Farhan mengatakan Presiden Prabowo menginginkan agar Husein Sastranegara segera dapat membuka kembali penerbangan domestik maupun internasional.

"Kita ingin mengembalikan kejayaan Bandara Husein yang di tahun 2019 traffic-nya itu sekitar 3,8 juta orang,” kata Farhan.

Bagai gayung bersambut. Harapan tersebut semakin menguat setelah respons dari industri penerbangan mulai terlihat.

InJourney Airports mencatat sebanyak enam maskapai mengajukan permohonan penerbangan berjadwal menggunakan pesawat jet dari Bandara Husein Sastranegara.

Enam maskapai itu adalah Citilink, Super Air Jet, Garuda Indonesia, TransNusa, Scoot, dan Wings Air.

Rute yang direncanakan pun beragam. Sejumlah kota di dalam negeri masuk dalam daftar, mulai dari Denpasar, Kualanamu, Surabaya, Pekanbaru, Makassar, Batam, Padang, Balikpapan, Pontianak, Lampung, hingga Palembang.

Tidak hanya domestik, konektivitas internasional juga kembali dibidik melalui rencana penerbangan menuju Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Singapura.

Garuda Indonesia menjadi maskapai pertama yang kembali melayani penerbangan langsung dari Bandara Husein Sastranegara melalui rute Bandung-Denpasar dan Denpasar-Bandung.

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengatakan penerbangan tersebut sekaligus menandai kembalinya Garuda Indonesia mengudara dari Bandung.

“Momentum ini bukan hanya menandai kembalinya Garuda Indonesia mengudara dari Bandung, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi kinerja kami dalam membangun jaringan penerbangan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki fundamental bisnis yang sehat,” ujar Glenny.

Tiga tahun menunggu

Bagi penumpang, makna kembalinya penerbangan dari Husein terasa jauh lebih singkat.

Santi, seorang penumpang Garuda Indonesia yang menjadi bagian dari penerbangan perdana menuju Bandung, mengaku senang dapat kembali mendarat langsung di kampung halamannya.

“Senang ya. Kita sudah tiga tahun enggak pulang. Saya sampai ingin teriak. Happy banget,” kata dia.

Bagi Santi, persoalan utama bukan hanya jarak, tetapi waktu yang harus ditempuh apabila pesawat mendarat di  Cengkareng.

Perjalanan darat Jakarta-Bandung dapat memakan waktu berjam-jam. Setelah menempuh perjalanan udara, penumpang masih harus menghadapi perjalanan lanjutan menuju Bandung.

“Kalau dari Jakarta lumayan lama, sekitar tiga sampai empat jam. Mending langsung ke Bandung,” kata Santi.

Bandung memiliki beragam daya tarik, mulai dari wisata alam dan budaya, kuliner, fesyen, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga berbagai agenda olahraga dan hiburan.

Namun, mengembalikan kejayaan Husein seperti pada 2019 tentu bukan perkara yang dapat dikejar dalam sehari.

Penerbangan Garuda Indonesia ini menjadi pembuka dari asa mengembalikan 3,8 juta penumpang dalam setahun dari gerbang Husein Sastranegara.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Asa mengembalikan 3,8 juta penumpang dari langit Bandung

Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026