Cirebon (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon, Jawa Barat, mendampingi kelompok urban farming untuk menjaga produksi tanaman selama musim kemarau 2026 melalui pemantauan rutin oleh penyuluh pertanian.

Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh saat dikonfirmasi di Cirebon, Selasa, mengatakan pihaknya mengerahkan tujuh penyuluh yang masing-masing telah dibagi wilayah binaannya untuk memantau perkembangan tanaman masyarakat.

"Kalau dari dinas ada penyuluh. Penyuluh mereka juga suka keliling dan punya wilayah binaan. Di kota ada tujuh orang," katanya.

Ia mengatakan penyuluh secara rutin memantau tanaman yang dikembangkan masyarakat, baik pertanian di lahan maupun kegiatan urban farming yang umumnya dilakukan dalam skala rumah tangga.

Menurut dia, kegiatan urban farming tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kelurahan Kalijaga dan Pulasaren, dengan pengelolaan dilakukan kelompok wanita tani (KWT) serta kelompok tani hortikultura.

DKP3 Kota Cirebon mencatat terdapat 51 kelompok tani hortikultura dan 35 KWT, yang menjadi kelompok masyarakat dalam kegiatan pertanian tersebut.

Elmi mengatakan kondisi kemarau tidak terlalu berdampak terhadap ketersediaan air untuk urban farming, karena sebagian kegiatan menggunakan sumur bor dan kebutuhan airnya relatif kecil.

"Kalau urban farming itu menggunakan sumur bor. Airnya masih aman, jadi tidak begitu signifikan terdampak dari kekurangan airnya," katanya.

Namun, menurut dia, tantangan yang lebih terasa selama kemarau adalah cuaca panas yang membuat tanaman lebih cepat layu sehingga perawatannya perlu ditingkatkan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DKP3 mendampingi kelompok urban farming untuk lebih sering mengamati tanaman dan melakukan penyiraman ketika media tanam mulai mengering, termasuk tanaman yang menggunakan polybag.

"Sayuran biasanya berumur pendek, harus sering diamati dan disiram supaya tidak gampang layu karena panasnya cuaca," kata Elmi.

Ia juga menyarankan tanaman yang ditempatkan pada rak agar bagian lantai di bawahnya, ikut disiram untuk menjaga kelembapan sekaligus membantu menurunkan suhu di sekitar tanaman.

Elmi menambahkan pemantauan oleh penyuluh dilakukan secara rutin sehingga kelompok urban farming, dapat menyesuaikan perawatan tanaman dengan kondisi cuaca dan mempertahankan produksi selama musim kemarau.

"Kalau tanaman ada di rak-rak, lantai bawah itu harus sering disiram juga untuk menjaga kelembaban dan menurunkan suhu. Sebenarnya itu antisipasi menghadapi panasnya cuaca," katanya.



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026