Bandung (ANTARA) - Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB Ridwan Sutriadi menegaskan pohon dan ruang terbuka hijau haruslah menjadi Infrastruktur wajib bagi kawasan Cekungan Bandung.

Ridwan di Bandung, Jabar, Selasa, menyebutkan keberadaan pohon dan ruang terbuka hijau di kawasan Cekungan Bandung tidak boleh lagi dipandang sebagai sekadar hiasan estetika, melainkan sebagai "infrastruktur alami" vital penyerap limpasan air dan penahan ancaman urban heat island (pulau panas perkotaan).

Menurut dia, masifnya alih fungsi lahan bervegetasi menjadi hamparan bangunan, jalan, dan permukaan beton keras di wilayah Cekungan Bandung telah menurunkan kapasitas resapan air hujan ke tanah secara drastis serta memicu peningkatan suhu udara secara sistematis.

Ridwan menjelaskan bahwa karakteristik topografi Cekungan Bandung membuat aliran air dari kawasan hulu di bagian utara mengalir ke kawasan hilir yang lebih rendah, sehingga dampak ekologisnya saling terikat antarwilayah tanpa mengenal sekat administratif kota maupun kabupaten.

"Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan. Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan," kata Ridwan.

Ia menyoroti bahwa satu pohon atau kawasan hijau yang dipertahankan akan memberikan dampak ekologis berskala luas bagi ketahanan hidro-orologis seluruh bentang alam Cekungan Bandung.

Selain fungsi hidrologis, kanopi peneduh pohon di tepi jalan, taman, dan permukiman berperan sebagai fasilitas utama penunjang kenyamanan pejalan kaki serta pengguna transportasi publik, sekaligus membentuk koridor penyaring polutan kendaraan bermotor.

Menurut dia, strategi penghijauan kota tidak bisa lagi dilakukan secara acak atau terpisah-pisah, melainkan harus berbasis pendekatan ekologi lanskap yang menghubungkan taman kota, bantaran sungai, jalur hijau jalan, hingga halaman permukiman menjadi satu jaringan sistem ekologis utuh.

Guna merespons ancaman krisis lingkungan tersebut, Ridwan mendorong penerapan pendekatan aksi cepat (lowest hanging fruit) yang dapat dieksekusi masyarakat di strata paling bawah tanpa menunggu proyek besar pemerintah.

"Di tingkat lingkungan, misalnya, warga dapat mengembangkan kebun komunitas pada fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan rumah, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku," tuturnya.

Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan teknologi terjangkau seperti sensor suhu dan kelembapan sederhana untuk melakukan pemetaan partisipatif titik-titik panas (hotspot) serta kondisi mikroklimat lingkungan sekitar.

Langkah berbasis data tersebut dinilai dapat membantu pemerintah dan masyarakat mengidentifikasi kawasan yang paling membutuhkan intervensi penghijauan secara presisi dan terukur dari waktu ke waktu.

"Di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus berlangsung, menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota. Sebaliknya, pohon membantu memastikan pembangunan tetap memberikan ruang bagi air untuk meresap, udara untuk menjadi lebih nyaman, masyarakat untuk beraktivitas, dan lingkungan untuk tetap bertahan bagi generasi berikutnya," tutur Ridwan.



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026