Bandung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyebutkan indikator tingkat kesejahteraan petani yang tercermin melalui Nilai Tukar Petani (NTP) Jabar pada Juli 2026 tercatat sebesar 119,04 atau naik tipis 0,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya karena ditopang penguatan sektor tanaman pangan, sementara tekanan biaya produksi tetap harus diwaspadai.

Kepala BPS Provinsi Jabar Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Selasa, memaparkan bahwa kenaikan NTP terjadi akibat peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,02 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) menurun sebesar 0,04 persen.

Subsektor tanaman pangan menjadi satu-satunya penopang utama kenaikan NTP dengan pertumbuhan sebesar 0,60 persen, berkat naiknya harga komoditas padi dan palawija di tingkat produsen.

Namun di sisi produksi yang tercermin pada Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Jawa Barat justru terkoreksi 0,07 persen menjadi 123,69 akibat pembengkakan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,09 persen.

"Komoditas yang dominan mempengaruhi kenaikan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal adalah naiknya upah membajak, naiknya harga pupuk TSP/SP36, dan naiknya harga bibit bawang daun. Ini harus diwaspadai," ujar Ari Anggorowati.

BPS juga memberikan perhatian khusus pada NTUP subsektor peternakan yang posisinya terbilang rawan karena mendekati angka indeks tahun dasar.

"Pada NTUP subsektor peternakan angkanya mendekati 100 yang artinya daya tukar peternak hampir mendekati tahun dasar 2018=100. Sehingga perlu upaya meningkatkan kesejahteraan peternak di Jawa Barat," tutur Ari.



Pewarta: RPG
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026