Bandung (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat mengungkapkan kebijakan penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dinikmati para petani di Jabar dengan sukacita.

Di mana, harga Gabah Kering Panen (GKP) di kawasan Pantura melesat hingga menembus Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram sepanjang 2025.

Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat, Yanti Hidayatun Zakiah pada ANTARA di Bandung, Senin, mengungkapkan lonjakan harga di atas standar minimal pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram tersebut berimbas langsung pada tren kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) serta daya beli masyarakat desa di Jawa Barat.

Dia memaparkan rata-rata harga GKP di tingkat petani Jabar sepanjang 2025 menyentuh Rp6.552 per kg, naik signifikan dari posisi 2024 yang sebesar Rp6.393 per kg.

"Petani luar biasa senang. Pemerintah menetapkan standar Rp6.500 per kg, tetapi di lapangan, khususnya kawasan Pantura, pembeli berebut, hingga harga dibeli di atas itu, ada yang Rp7.000 sampai Rp8.000 per kg. Ini mendongkrak grafik NTP Jabar secara konsisten," ujar Yanti.

Yanti menjelaskan bahwa indikator utama kesejahteraan dan daya beli petani yang diukur BPS melalui NTP menunjukkan grafik yang terus menanjak dari Januari hingga Desember 2025, menandakan indeks penerimaan hasil panen jauh melampaui indeks pengeluaran petani.

Selain faktor harga pasar yang bergairah, hingga meningkatkan semangat budidaya padi di Jabar untuk tahun 2026 ini, kepastian produksi petani pada musim tanam tahun ini juga dijamin oleh ketersediaan pupuk bersubsidi.

DTPH Jabar mencatat realisasi penyaluran pupuk bersubsidi periode Januari-Juni 2026 telah mencapai 504.738 ton atau 47,55 persen dari total kuota 1,06 juta ton.

"Stok pupuk bersubsidi untuk semester II (Juli-Desember 2026) masih aman di angka 556.849 ton atau 52,45 persen. Kita pastikan distribusi ke daerah berjalan lancar sehingga dipastikan tidak ada kelangkaan di tingkat petani," tutur Yanti. 



Pewarta: RPG
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026