Bandung, Jawa Barat (ANTARA) - Pemprov Jabar mengejar lompatan produktivitas padi hingga dua kali lipat dengan mengoptimalkan program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS), yang dialokasikan pemerintah pusat seluas 155.000 hektare agar tahan menghadapi tantangan iklim dan memperkuat swasembada pangan.
Program strategis Kementerian Pertanian tersebut mengintegrasikan mekanisasi pertanian yang modern melalui penyediaan alsintan, peningkatan kuota benih unggul, hingga pengelolaan nutrisi tanah presisi (pupuk) yang menyasar kawasan sawah beririgasi teknis di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat.
Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat Yanti Hidayatun Zakiah, kepada ANTARA di Bandung, Senin, memaparkan skema PMAAS menerapkan formula budi daya yang jauh berbeda dibanding metode konvensional demi mendongkrak hasil panen secara signifikan.
Melalui program PMAAS ini, bantuan benih yang dialokasikan mencapai 70 kilogram per hektare, jauh meningkat dibanding bantuan reguler yang biasanya hanya 25 kilogram per hektare.
"Diharapkan produktivitas yang biasanya rata-rata 5,8 ton per hektare bisa melesat ke angka 10 hingga 12 ton per hektare," ujar Yanti.
Yanti menjelaskan kuota 155.000 hektare yang didapatkan Jawa Barat merupakan bagian dari target nasional seluas 1 juta hektare.
Penempatan program ini diwajibkan pada lahan sawah irigasi teknis untuk menjamin ketersediaan air yang stabil, sehingga penerapan teknologi modern dapat berjalan optimal tanpa terganggu risiko kekeringan.
Selain bantuan benih dan mekanisasi modern, Pemprov Jabar menyinergikan program PMAAS dengan implementasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pertanian Organik melalui pendistribusian pupuk hayati cair dan pupuk organik guna memperkuat ketahanan mikroba tanah.
"Langkah mitigasi dan modernisasi ini penting untuk menjaga tren positif produksi. Pada 2025 lalu, produksi gabah kering giling (GKG) Jabar naik 18,54 persen menjadi 10,23 juta ton. Dengan masuknya PMAAS pada 2026, kita optimistis kontribusi Jabar sebagai penyumbang beras terbesar kedua nasional dapat terus ditingkatkan," tuturnya.
Untuk menopang keberhasilan pertanian modern di kawasan tadah hujan atau daerah luar jangkauan PMAAS, DTPH Jabar juga telah mendistribusikan bantuan pompanisasi berupa 50 unit mesin pompa berbasis tenaga surya demi meminimalisir dampak perubahan iklim secara menyeluruh.
"Sinergi antara modernisasi PMAAS di lahan irigasi dan penguatan pompanisasi di lahan tadah hujan menjadi kunci utama agar produksi padi Jawa Barat tetap tangguh dalam kondisi cuaca apa pun," kata Yanti menambahkan.
Pewarta: RPGEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.