Bandung (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat (Jabar) mengungkapkan pada 2025 total produksi padi di daerah ini mencatatkan pertumbuhan positif dibanding tahun sebelumnya, meski diakui tingkat produktivitas lahan sawah di Jabar terkikis tipis.
Sekretaris DTPH Jabar Yanti Hidayatun Zakiah, di Bandung, Senin, mengungkapkan anomali cuaca kemarau basah yang memicu minimnya penyinaran matahari sepanjang tahun 2025, terbukti mengganggu proses pengisian bulir padi di Jabar, sehingga menurunkan tingkat produktivitas lahan sebesar 0,21 kuintal per hektare (ha).
Data Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia lagi, mencatat produktivitas padi Jabar yang pada 2024 berada di angka 58,47 kuintal per ha terkoreksi tipis menjadi 58,26 kuintal per ha pada 2025 akibat terjadinya kelembapan tinggi, banjir, longsor, serta serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti penyakit blas dan wereng batang cokelat.
Yanti mengungkapkan tutupan awan yang tebal akibat curah hujan sepanjang tahun membuat sinar matahari tidak maksimal menyinari tanaman padi pada fase matang.
"Penyinaran matahari yang berkurang sedikit mengganggu proses pengisian bulir. Ditambah lagi dampak perubahan iklim memicu serangan hama seperti wereng dan penyakit tanaman," kata Yanti lagi.
Kendati produktivitas per hektare terkikis tipis, total produksi gabah Jabar terbilang tetap selamat dan tumbuh 18,54 persen yakni mencapai 10,23 juta ton.
Hal itu, kata Yanti, berkat ketersediaan air sepanjang tahun dengan bantuan peningkatan total luas tanam pada 2025 di angka 2.106.724 ha, dari 1.918.137 ha di tahun 2024.
Kemudian, ujar dia pula, koordinasi intensif dengan BPS hingga tingkat kabupaten/kota untuk penyesuaian titik kerangka sampel area (KSA) sehubungan penurunan luas lahan baku sawah dari 916.798 ha menjadi 900.722 ha, agar pemetaan lebih relevan.
"Dan yang menunjang juga terkait dengan adanya gerakan dan kolaborasi serta koordinasi yang intensif serta masif antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kota dalam rangka akselerasi untuk gerakan swasembada pangan, dengan memastikan ketersediaan benih, pupuk dan berbagai insentif seperti pompanisasi untuk kesuksesan program," ujarnya pula.
Adapun untuk mengantisipasi anomali iklim lanjutan pada musim kemarau 2026 ini, kata Yanti lagi, Pemprov Jabar mengintensifkan edukasi penggunaan pupuk organik dan hayati cair sesuai amanat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pertanian Organik.
"Penggunaan pupuk organik sangat krusial menjaga kandungan bahan organik tanah. Saat kemarau, tanah yang diolah dengan pupuk organik tidak akan mengeras yang kalau dilihat secara langsung itu pecah-pecah, sehingga kelembapan mikroba terjaga dan sawah masih bisa ditanami," kata Yanti menambahkan.
Pewarta: RPGEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.