Cianjur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, memperkuat koordinasi dengan jajaran kecamatan dan desa guna mengantisipasi serta mempercepat penanganan dampak musim kemarau dari wilayah utara hingga selatan.

"Kami meminta aparat desa dan kecamatan memantau dan melaporkan situasi di wilayahnya masing-masing guna memudahkan petugas dalam melakukan penanganan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur Samudra Wira Purnama di Cianjur, Rabu.

Dia mengatakan koordinasi tersebut dilakukan untuk mengetahui situasi terkini dampak musim kemarau di setiap wilayah. Sebab, dampak musim kemarau tidak hanya berpotensi menimbulkan kekeringan hingga krisis air bersih, tetapi juga kebakaran lahan, hutan, hingga permukiman, sehingga berbagai langkah antisipasi harus dilakukan bersama.

"Kami juga melakukan mitigasi dan pemetaan terkait wilayah rawan kekeringan saat musim kemarau, sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan seperti pendistribusian ke titik rawan krisis air bersih menggunakan truk tangki," katanya.

Selain itu, pihaknya mengimbau masyarakat di titik rawan kekeringan untuk menyiapkan bak penampungan air yang mudah dijangkau melalui aparat desa dan kecamatan. Hal ini bertujuan memudahkan petugas atau relawan dalam pendistribusian air bersih, sehingga masyarakat tidak perlu berjalan jauh.

Tercatat 14 kecamatan di Cianjur rawan kekeringan saat musim kemarau, mulai dari wilayah Cianjur, Cikalongkulon, Karangtengah, Cugenang, Ciranjang, Gekbrong, Campakamulya, Kadupandak, Agrabinta, Cijati, Naringgul, Cidaun, Pagelaran, dan Cibinong.

Di wilayah-wilayah tersebut, rata-rata masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai upaya antisipasi, pemerintah telah membangun sejumlah sumur bor di wilayah utara dan selatan.

"Khusus di wilayah selatan sudah dibangun sumur bor bantuan Pemkab Cianjur," katanya.

Pihaknya juga menyiagakan 360 relawan di masing-masing desa di Cianjur untuk melakukan pengawasan dan pelaporan setiap harinya. Dengan demikian, ketika dampak kemarau terus meluas, penanganan cepat dapat segera dilakukan bersama aparat desa dan kecamatan.

Relawan juga diminta untuk menyosialisasikan terkait larangan membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan agar tidak menjadi penyebab kebakaran lahan dan hutan yang tercatat selama satu pekan terakhir sudah dua kali terjadi.

"Ini harus menjadi perhatian bersama, guna menghindari terjadinya kebakaran, masyarakat diminta tidak membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan karena dapat menyebabkan kebakaran lahan dan hutan," katanya.



Pewarta: Ahmad Fikri
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026