Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat, mempercepat pembangunan senderan di Sungai Suba Cirebon untuk mengurangi potensi peristiwa banjir di kawasan yang selama ini kerap terdampak luapan sungai saat curah hujan tinggi.

Wali Kota Cirebon Effendi Edo di Cirebon, Kamis, mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.

Menurut dia, senderan yang dibangun memiliki panjang sekitar 90 meter dengan tinggi antara 1,8 meter hingga 2 meter untuk mengurangi risiko luapan Sungai Suba ke permukiman warga.

Pembangunan tersebut, kata dia, menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pengendalian banjir di wilayah Drajat yang selama ini menjadi salah satu titik rawan genangan.

“Kami yakin keberadaan infrastruktur ini dapat mengurangi risiko luapan sungai yang selama ini menjadi penyebab banjir di permukiman warga,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah daerah, telah menyelesaikan pembangunan senderan di RT 01 RW 01 Kelurahan Drajat yang dilengkapi pintu air dan pembenahan saluran drainase.

Menurut Edo, keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengendalian genangan sekaligus memperlancar aliran air ketika debit sungai meningkat.

Ia menegaskan pemerintah daerah akan melanjutkan penanganan banjir secara bertahap di sejumlah lokasi, yang masih membutuhkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir.

“Ini merupakan langkah nyata yang diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat,” kata Edo.

Sementara itu, Lurah Drajat Daniar mengatakan wilayahnya menjadi salah satu kawasan yang rutin terdampak banjir sejak 2024.

Ia menyebut saat banjir besar ketinggian air di permukiman warga dapat mencapai sekitar dua meter, sedangkan pada Februari 2026 wilayah tersebut kembali dilanda banjir sebanyak dua kali dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

Ia berharap pembangunan infrastruktur pengendali banjir di wilayah Drajat, dapat terus berlanjut sehingga dampak banjir terhadap permukiman warga dapat semakin berkurang.

“Sekitar 160 kepala keluarga terdampak banjir sehingga masyarakat terus mengusulkan pembangunan senderan dan normalisasi sungai sebagai solusi jangka panjang,” katanya.



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026