Garut (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggandeng pihak swasta PT Mandraguna untuk mengembangkan sistem pengolahan limbah kulit yang lebih ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan sebagai langkah inovatif yang akan memberikan manfaat keahlian bagi warga binaan.

"Melalui kolaborasi dengan PT Mandraguna, kami ingin menghadirkan model pengelolaan limbah yang tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi," kata Kepala Lapas Kelas IIA Garut Rusdedy di Garut, Rabu.

Ia menuturkan Lapas Kelas IIA Garut terus memperkuat perannya sebagai institusi pemasyarakatan yang produktif dan inovatif melalui pengembangan program pengelolaan limbah kulit berbasis ekonomi sirkular.

Kolaborasi dengan swasta, kata dia, merupakan bagian dari transformasi pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter warga binaan, tetapi juga menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Ini menjadi sarana pembelajaran keterampilan bagi warga binaan. Inilah wujud nyata pembinaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan," katanya.

Ia menyampaikan Lapas Garut membangun sinergitas dengan swasta dalam mengembangkan sistem pengolahan limbah kulit yang lebih ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan.

Garut merupakan salah satu daerah sentra industri kulit nasional, kata dia, memiliki potensi ekonomi yang besar, tapi juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah hasil proses penyamakan kulit sehingga membutuhkan solusi terpadu.

Langkah nyata itu, lanjut dia, untuk menjawab persoalan limbah industri penyamakan kulit yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan lingkungan di Garut.

"Lapas harus mampu menjadi bagian dari solusi," katanya.

Ia menjelaskan kerja sama pemanfaatan limbah kulit sebagai media budi daya maggot, nantinya maggot akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak berprotein tinggi, sementara residunya diolah menjadi pupuk organik untuk program ketahanan pangan di lingkungan Lapas Garut.

Rusdedy berharap program tersebut mampu menghasilkan ekosistem usaha yang terintegrasi, mulai dari pengolahan limbah, produksi maggot, pembuatan pupuk organik, hingga pemanfaatannya untuk mendukung sektor peternakan dan pertanian.

Warga binaan juga, kata dia, memperoleh keterampilan praktis di bidang pengelolaan limbah, budi daya maggot, serta kewirausahaan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

"Program ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan limbah berbasis pemasyarakatan yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia," katanya.

 



Pewarta: Feri Purnama
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026