Cimahi (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi, Jawa Barat menyiapkan pasokan air bersih untuk mengantisipasi potensi kekeringan ekstrem pada musim kemarau 2026, yang diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino.
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira di Cimahi, Jumat, menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait memperbarui data titik rawan kekeringan sebagai dasar penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat.
"Kita mulai menyiapkan sumber pasokan air bersih untuk beberapa wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem, koordinasi dengan wilayah kota sudah mendata beberapa titik yang terancam mengalami kekeringan ekstrem," katanya.
Ia mengatakan hampir seluruh wilayah Kota Cimahi memiliki tingkat kerawanan terhadap krisis air bersih, mulai dari kategori ringan, sedang hingga ekstrem, sehingga pendataan terus dilakukan bersama pemerintah kewilayahan.
Ia menyebut bahwa peristiwa El Nino tersebut merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari, tetapi dapat diantisipasi agar potensi dampak ekstrem dapat dihindari atau diminimalisasi.
"Intinya apapun yang terjadi, karena ini fenomena alam yang tidak bisa kita lawan. Kami dari pemerintah mencoba untuk mengantisipasi mengenai potensi terjadinya kekeringan ekstrem di Kota Cimahi," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fithriandy Kurniawan mengatakan potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini diperkirakan meluas hingga seluruh kelurahan di Kota Cimahi.
"Kalau melihat dari potensinya, semua kelurahan di Kota Cimahi ini terancam kekeringan dan krisis air bersih, artinya merata, dan puncaknya di bulan Agustus sampai Oktober 2026," katanya
Ia menyebutkan berdasarkan pemetaan BPBD, sebanyak 312 RW berpotensi mengalami kekeringan dan krisis air bersih selama musim kemarau tahun ini, sehingga pemerintah menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
Berdasarkan dokumen kajian risiko bencana (KRB), wilayah selatan Kota Cimahi, seperti Kelurahan Melong, Utama, dan Leuwigajah menjadi kawasan yang mengalami dampak kekeringan paling parah pada kemarau panjang dua tahun lalu akibat penurunan muka air tanah.
Menurut Fithriandy, mayoritas warga di wilayah tersebut masih mengandalkan sumur sebagai sumber air bersih, sehingga debit air tanah menurun saat kemarau dan kondisi tersebut diperparah oleh tingginya pemanfaatan air tanah, sehingga berpotensi memicu krisis air bersih apabila tidak diantisipasi sejak awal.
Pewarta: Ilham NugrahaEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.