Bandung (ANTARA) - Tren prevalensi kasus luka kronis akibat perubahan gaya hidup seperti diabetes melitus dan komorbiditas di wilayah Jawa Barat tercatat terus mengalami peningkatan signifikan, akhirnya tak sedikit korban luka yang menghadapi risiko amputasi.
Atas kondisi yang berpotensi mengkhawatirkan tersebut, Mayapada Hospital Bandung (MHBD) meluncurkan Wound Care Center, pada Kamis (25/6), sebagai layanan modern terintegrasi ini diproyeksikan menjadi solusi proteksi publik guna menekan risiko amputasi anggota gerak serta memulihkan fungsi estetika tubuh pasien.
Dokter Spesialis Bedah Umum Mayapada Hospital Bandung dr Desi Novianti, mengungkapkan mayoritas pasien yang datang ke rumah sakit kerap dalam kondisi kompleks dan terlambat penanganan akibat faktor perawatan mandiri (home care) di rumah yang kurang tersertifikasi.
"Jika tidak menangani dengan tepat, perawatan yang dengan baik, pasien akan mengalami komplikasi yang lebih lanjut. Salah satunya dengan cara amputasi, kalau misalnya pada pasien diabetes," kata dr Desi.
Ia menceritakan salah satu bukti keberhasilan klinis di MHBD saat menyelamatkan kaki seorang pasien penderita luka diabetes yang sebelumnya telah divonis harus diamputasi hingga batas mata kaki oleh faskes lain.
Melalui identifikasi pembuluh darah dan metode modern dressing, tim dokter sukses melokalisasi tindakan hanya pada area jari kaki yang telah menghitam, sehingga pasien kini dapat bekerja kembali tanpa kehilangan fungsi berjalan.
"Risiko yang paling ditakutkan adalah infeksinya akan bertambah luas, jaringan yang mati juga akan bertambah melebar, yang akhirnya akan merusakkan jaringan sampai gangguan pembuluh darah. Kalau sudah gangguan pembuluh darah, biasanya kaki akan menghitam," ujarnya.
Hospital Director Mayapada Hospital Bandung dr Irwan Susanto Hermawan memaparkan bahwa Wound Care Center ini memotong alur birokrasi penanganan medis yang selama ini terfragmentasi.
Pasien tidak perlu lagi bingung menentukan spesialisasi dokter, karena faskes ini mengintegrasikan seluruh pemeriksaan akar masalah secara multidisiplin dalam satu pintu, didampingi oleh Wound Care Educator dari tim perawat.
"Keberhasilan penanganan luka kronis tidak hanya diukur dari kesembuhan dan tertutupnya luka, tetapi juga pada upaya mempertahankan fungsi organ dan mencegah komplikasi, agar pasien dapat kembali beraktivitas dengan nyaman dan optimal," tutur dr Irwan.
Layanan terpadu yang beroperasi setiap Senin hingga Sabtu mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB ini, turut didukung penuh oleh kemitraan strategis bersama PT Darya Varia Laboratoria.
Kolaborasi ini menghadirkan intervensi teknologi mutakhir non-invasif berupa Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) atau pompa vakum penyedot cairan berlebih guna mengaselerasi regenerasi jaringan sel secara optimal.
Presiden Direktur PT Darya-Varia Laboratoria dr Ian Martin Wibawa Kloer menegaskan komitmennya untuk terus menyokong penyediaan alat kesehatan mutakhir di Indonesia.
"Harapannya adalah pasien bisa mendapatkan penanganan yang lebih menyeluruh, lebih baik, dengan hasil yang tentunya lebih optimal nantinya," tutur dr Ian.
Pewarta: RPGEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.