Kota Cirebon (ANTARA) - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon, Jawa Barat, menyebut pembangunan flyover di perlintasan sebidang Jalan Slamet Riyadi atau kawasan Krucuk menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan keselamatan dan mengatasi kemacetan pada perlintasan kereta api yang memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi.
Kepala Dishub Kota Cirebon Gunawan di Cirebon, Jumat, mengatakan proyek pembangunan jalan layang itu telah masuk dalam perencanaan pemerintah pusat dan ditargetkan memasuki tahap konstruksi pada 2028.
"Flyover akan dimulai dari kawasan Pilang Raya menuju Jalan Slamet Riyadi karena berada di koridor jalan nasional,” katanya.
Menurut dia, pembangunan flyover tersebut telah dibahas bersama pemerintah pusat dan direncanakan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Ia menuturkan berdasarkan kajian awal yang dipaparkan dalam pembahasan teknis, panjang konstruksi flyover diperkirakan sekitar 400 hingga 450 meter dengan ketinggian sekitar 11 meter.
"Kalau melihat kajian awal, panjangnya sekitar 400 sampai 450 meter. Kurang lebih 200 meter digunakan untuk tanjakan dan 200 meter untuk turunan. Tingginya sekitar 11 meter agar memenuhi standar keselamatan di atas jalur kereta api," ujarnya.
Sementara itu, Vice President PT KAI Daerah Operasi 3 Cirebon Sigit Winarto mengatakan perlintasan sebidang Krucuk merupakan salah satu titik yang telah memiliki kajian, sehingga masuk dalam rencana pembangunan pemerintah pusat.
"Tahun 2027 diproyeksikan mulai pembebasan lahan, sedangkan konstruksi kemungkinan besar dilaksanakan pada 2028 oleh Kementerian PU," katanya.
Ia mengatakan Kota Cirebon saat ini memiliki 11 perlintasan sebidang yang seluruhnya dijaga PT KAI, serta dilengkapi palang pintu dan petugas penjaga.
Meski demikian, kata dia, tingginya volume kendaraan pada sejumlah titik perlintasan masih menjadi tantangan karena sering menimbulkan antrean panjang saat palang pintu ditutup untuk perjalanan kereta api.
“Bahkan berdasarkan data yang disampaikan Dishub, jam sibuk perjalanan kereta api bertepatan dengan jam sibuk kendaraan, sehingga saat perlintasan ditutup terjadi kemacetan yang cukup panjang," katanya.
Sigit menekankan, pembangunan flyover menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan keselamatan pada perlintasan sebidang yang memiliki lalu lintas padat.
“Untuk perlintasan lainnya akan diusulkan secara bertahap. Nanti akan dilihat mana yang paling memungkinkan untuk dibangun flyover atau underpass," ucap dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.