Cirebon (ANTARA) - Suasana khidmat menyelimuti area Griya Sawala, Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (16/6). Para tamu undangan hingga masyarakat memenuhi ruang sidang dalam Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-599 Cirebon.

Para tamu undangan itu mengenakan busana adat, batik, dan pakaian bernuansa tradisional yang mencerminkan identitas Kota Cirebon sebagai daerah yang lahir dari pertemuan berbagai budaya.

Tema Manunggal Winangun Caruban yang diusung tahun ini tidak hanya hadir dalam bentuk slogan. Sejumlah capaian pembangunan dipaparkan mulai dari penghargaan pengendalian inflasi terbaik hingga keberhasilan mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Namun di tengah berbagai capaian itu, perhatian peserta sidang sempat tertuju pada sosok yang tidak berasal dari lingkaran dunia politik.

Tokoh tersebut memunculkan satu gagasan yang berangkat dari lingkungan terkecil dalam struktur pemerintahan, yakni Rukun Tetangga (RT).

Gagasan itu disampaikan oleh Taufiq Yusuf, putra asli Cirebon yang kini menjadi Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Taufiq Yusuf saat menghadiri sidang paripurna dalam rangka Hari Jadi ke-599 Cirebon di Gedung DPRD Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (16/6/2026). ANTARA/HO-Pemkot Cirebon.

 

Kehadirannya menjadi warna berbeda dalam sidang paripurna yang umumnya diisi pidato pejabat dan laporan pembangunan daerah. Pengalaman memimpin lingkungan padat penduduk di Jakarta menawarkan cara pandang lain tentang pembangunan kota.

Saat berdiri di podium, alumni SMP Negeri 1 Cirebon itu mengaku terharu dapat kembali ke kota kelahirannya dalam momentum bersejarah menjelang usia 600 tahun Kota Cirebon.

Ia bahkan berseloroh bahwa dirinya meninggalkan Cirebon sejak 1995, tetapi masih dapat terlacak oleh Pemerintah Kota Cirebon hingga akhirnya diundang sebagai pembicara dalam peringatan hari jadi tersebut. Candaan itu disambut tawa hadirin.

Namun setelah suasana mencair, ia menyampaikan pesan yang menjadi inti kehadirannya dalam rapat paripurna tersebut.

“Kalau dari lorong sempit, harus lahir solusi besar,” katanya.

 

 

Dari kawasan beton

Wilayah yang dipimpinnya hanya sekitar 5.400 meter persegi. Hampir seluruh kawasan tertutup beton dan bangunan padat penduduk. Ruang terbuka pun sangat terbatas.

Di tempat itulah Taufiq bersama warga membangun konsep Survival Architecture Indonesia, sebuah pendekatan yang berupaya menjawab persoalan lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat melalui langkah tepat guna yang dapat dilakukan dari tingkat RT.

Saat berada di Cirebon, ia merasa iri karena kota kelahirannya masih memiliki cukup banyak ruang yang dapat dioptimalkan untuk berbagai kegiatan produktif.

“Kami sedih melihat Cirebon masih banyak tanah kosong, tetapi belum dimanfaatkan,” tuturnya.

Menurut dia, persoalan lingkungan harus dilihat melalui prinsip triple bottom line: people, profit, dan planet. Artinya, perubahan budaya masyarakat harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan pelestarian lingkungan.

Salah satu sumber daya yang menurutnya paling sering diabaikan adalah sampah rumah tangga.

Di balik tumpukan sampah yang setiap hari dihasilkan masyarakat, ia melihat potensi ekonomi dan lingkungan yang belum tergarap.

 

"Sampah itu tambang emas yang ada di depan mata," ujarnya.

Menurut dia, sampah anorganik relatif sudah memiliki jalur pengelolaan. Sebaliknya, sampah organik kerap dianggap tidak bernilai dan berakhir di tempat pembuangan akhir.

Di lingkungan yang dipimpinnya, sisa makanan rumah tangga dimanfaatkan melalui sistem terpadu yang melibatkan maggot, komposter, lubang resapan biopori, ayam petelur, ikan, hingga tanaman.

Sampah organik diolah menjadi pakan maggot yang kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ayam dan ikan. Hasil sampingnya kembali digunakan sebagai pupuk sehingga membentuk siklus yang menghasilkan pangan sekaligus mengurangi volume sampah.

"Asal mulanya adalah sampah," ujarnya saat menjelaskan konsep tersebut.

Keberhasilan program lingkungan yang dikembangkan, kemudian berkembang menjadi sistem yang lebih luas melalui konsep Eco Edu Farm.

Konsep tersebut menggabungkan edukasi, ketahanan pangan keluarga, penguatan ekonomi warga, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

 

Ubah cara pandang

Perjalanan menuju sistem tersebut tidak terjadi dalam semalam. Jauh sebelum menjadi ketua RT, Taufiq telah menanam pohon selama 21 tahun dan mengolah kompos secara mandiri selama lebih dari satu dekade.

Menurut dia, kebiasaan memilah sampah dan menghabiskan sampah organik dari rumah sendiri bukanlah hal baru bagi warga RT yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, saat pemerintah mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya, masyarakat di lingkungannya relatif lebih siap menjalankannya.

Menurut dia, tantangan terbesar bukanlah sarana atau pendanaan, melainkan mengubah pola pikir masyarakat. Karena itu, pemimpin lingkungan harus mampu menjelaskan tujuan program sekaligus memberi teladan agar warga melihat manfaat nyata dan bersedia terlibat.

Pendekatan itu perlahan membuahkan hasil. Lingkungan yang sebelumnya gersang mulai berubah menjadi kawasan yang aktif mengelola sampah, memanfaatkan teknologi digital, dan mengembangkan berbagai kegiatan berbasis lingkungan.

Warga bahkan telah memanfaatkan sistem pos kamling modern yang terhubung melalui telepon genggam. Berbagai kegiatan lingkungan kemudian didokumentasikan melalui media sosial dan situs web komunitas.

Langkah kecil itu rupanya membawa dampak yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Setelah melihat rekam jejak kegiatan lingkungan warga, sebuah perusahaan energi hijau memberikan bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 10.000 watt.

Bantuan itu, lanjut dia, menjadi bukti bahwa aktivitas lingkungan yang terdokumentasi dengan baik dapat membuka peluang kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak.

Selain mengelola sampah, Taufiq mengembangkan berbagai subsistem lain, salah satunya yakni ayam petelur skala rumah tangga.

Ia bahkan menyusun 17 standar operasional prosedur agar pemeliharaan ayam di kawasan padat penduduk tidak menimbulkan bau maupun gangguan lingkungan.

Keberhasilan program tersebut kini mulai direplikasi ke wilayah lain melalui konsep yang ia sebut sister village. Beberapa RT dan RW di sekitar Malaka Jaya mulai menerapkan pendekatan serupa.

 

Diakui

Taufiq mengungkapkan lingkungan yang dipimpinnya pernah menerima penghargaan dari Amerika Serikat sebanyak dua kali.

Inovasi yang dikembangkan pun dapat menarik perhatian pihak di Tiongkok hingga mengundangnya untuk berbagi pengalaman.

Dalam salah satu kesempatan, Taufiq diminta menjelaskan bagaimana seorang ketua RT dapat menjadi motor inovasi, menjaga keberlanjutan program, dan menghadapi perbedaan pandangan warga.

Baginya, pengalaman itu menunjukkan bahwa perubahan dari tingkat akar rumput pun dapat menarik perhatian dunia.

Usai sidang paripurna, Taufiq dijadwalkan memaparkan konsepnya kepada wali kota, camat, dan lurah se-Kota Cirebon. Sebab, pemerintah berencana menguji konsep tersebut melalui sejumlah proyek percontohan.

“Kita akan hitung berapa sampah organik yang dihasilkan, lalu kita bagi lokasi piloting-nya di tingkat RT, RW, sekolah, pesantren, sampai pasar,” tuturnya.

 

Menata Cirebon dari tingkat RT

Gagasan yang dibawa Taufiq mendapat sambutan positif dari pemerintah. Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman menilai berbagai indikator pembangunan Kota Cirebon memang menunjukkan perkembangan yang cukup baik.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Cirebon telah mencapai 78,99. Tingkat pengangguran berada pada angka 6,41 persen. Pengendalian inflasi juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat karena dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Meski demikian, Herman mengingatkan bahwa sejumlah pekerjaan rumah masih harus diselesaikan. Kemiskinan perlu terus ditekan, kesenjangan ekonomi harus diperkecil, dan kualitas sumber daya manusia perlu ditingkatkan

Berbagai inovasi yang lahir dari masyarakat, kata dia, perlu diberi ruang untuk berkembang karena pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan birokrasi.

Baginya, Cirebon harus menjadi daerah percontohan yang programnya dapat direplikasi oleh kabupaten/kota di Jawa Barat.

 

Maka dari itu, kehadiran sosok seperti Taufiq sangat diperlukan bagi Cirebon untuk menata kota dari tingkat RT.

“Pak Taufiq kita action dan jangan pakai lama mulai besok. Paling tidak kita sudah langsung konsolidasi dengan para ketua RW, para ketua RT, (pemerintah daerah) hadirkan Pak Taufiq dan apabila diundang, kami siap hadir,” ujarnya.

Langkah itu dinilai sejalan dengan semangat Manunggal Winangun Caruban, yang menempatkan kolaborasi sebagai fondasi pembangunan daerah.

 

Komitmen

Wali Kota Cirebon Effendi Edo dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa Hari Jadi ke-599 Cirebon harus menjadi momentum evaluasi dan refleksi pembangunan.

Menurut dia, berbagai penghargaan yang diraih Kota Cirebon sepanjang 2026 merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat.

Meski demikian, Edo mengingatkan bahwa berbagai capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak cepat berpuas diri.

Tantangan menuju usia enam abad justru semakin besar, mulai dari penataan ruang kota, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, hingga peningkatan kualitas lingkungan hidup.

Oleh karena itu, berbagai gagasan yang lahir dari masyarakat perlu mendapat ruang untuk berkembang dan menjadi bagian dari gerakan pembangunan daerah.

Edo menyampaikan seluruh unsur pemerintah, legislatif, tokoh masyarakat, dan warga perlu terlibat aktif dalam pembangunan tanpa mengedepankan kepentingan sektoral.

"Semuanya harus bersama-sama, tidak ada lagi ego sektor maupun ego masing-masing dalam membangun Kota Cirebon," tutupnya.

Cirebon memang membutuhkan berbagai terobosan untuk menjawab tantangan pembangunan. Namun dari kisah seorang perantau yang kembali ke kota kelahirannya, muncul pelajaran bahwa perubahan besar seringkali berawal dari lingkungan terkecil, sebuah RT yang berani memulai.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjelang enam abad, Kota Cirebon belajar dari sebuah RT di Jakarta

Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026