Garut (ANTARA) - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyampaikan saat ini sudah mulai melakukan tahapan seleksi bagi masyarakat yang ingin menjadi peserta didik Sekolah Rakyat tahun 2026 dengan kuota yang tersedia sebanyak 30 siswa.
"Sekarang masih proses, mungkin minggu-minggu depan (hasil proses)," kata Kepala Dinsos Kabupaten Garut Marlinda Siti Hana kepada wartawan di Garut, Selasa.
Ia menuturkan Kementerian Sosial (Kemensos) saat ini sudah membuka seleksi untuk rekrutmen peserta didik di Sekolah Rakyat, termasuk saat ini Garut mendapatkan kuota sebanyak 30 siswa untuk ke tingkat SMP tahun 2026.
Minat masyarakat ke Sekolah Rakyat, kata dia, cukup banyak, sehingga perlu dilakukan proses seleksi menentukan siapa yang layak sesuai kuota yang disediakan.
"Siswa baru 30 orang, yang sekarang masuk SMP saja pokoknya," kata Marlinda.
Ia mengatakan Kabupaten Garut tahun sebelumnya sudah menyelenggarakan Sekolah Rakyat yang diselenggarakan di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Garut dengan jumlah peserta didik sebanyak 75 orang terbagi untuk tingkat SD, SMP, dan SMA.
Tahun ini penyelenggaraan Sekolah Rakyat, kata dia, akan disatukan dengan sejumlah daerah lain yang dipusatkan pada Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumedang.
"Tahun ini hanya dikasih jatah 30 orang oleh Kabupaten Sumedang, kenapa? Karena kan dibagikan banyak yang mau nambah nih, tapi tempatnya di kabupaten/kota tidak ada, kayak gini, kayak Garut, jadi dimerger," katanya.
Ia menjelaskan bangunan Sekolah Rakyat rintisan di Garut sementara tidak cukup untuk menampung siswa baru, sehingga digabungkan dulu dengan Kabupaten Sumedang.
Seluruh calon siswa Sekolah Rakyat dari Garut itu, kata dia, nanti akan dikirim ke Kabupaten Sumedang sambil menunggu pembangunan Sekolah Rakyat permanen di Garut selesai.
"Doakan bangunan baru, makanya doakan biar enggak kalah, doakan biar Garut jangan mau kalah," katanya.
Pewarta: Feri PurnamaEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.