Cirebon (ANTARA) - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cirebon, Jawa Barat, mengatakan program Sekolah Rakyat di daerahnya membantu upaya memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui intervensi pendidikan dan pemberdayaan keluarga penerima manfaat (KPM).
"Tujuan Sekolah Rakyat ini adalah memutus mata rantai kemiskinan ekstrem,” kata Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kota Cirebon Agus Syahron saat ditemui di Cirebon, Senin.
Ia mengatakan program tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, namun juga meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Menurut dia, peserta Sekolah Rakyat berasal dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah yang menjadi sasaran program pemerintah.
Ia menjelaskan peserta didik dalam program tersebut mendapatkan layanan pendidikan, pembinaan karakter, kebutuhan dasar sehari-hari, serta fasilitas penunjang lain yang disediakan oleh pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos).
Selain menyasar anak, kata dia, program itu pula mencakup pendampingan bagi orang tua melalui berbagai bentuk pemberdayaan ekonomi agar keluarga memiliki sumber penghasilan yang lebih baik.
“Pendekatan tersebut dilakukan karena pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya melalui pendidikan, tetapi harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas ekonomi keluarga,” ujarnya.
Ia menuturkan sejumlah keluarga siswa telah menerima manfaat dari program pendampingan yang dijalankan pemerintah, termasuk bantuan Rumah Sejahtera Terpadu (RST).
Pihaknya mendata pada 2025, sebanyak 17 keluarga siswa Sekolah Rakyat di Kota Cirebon menerima bantuan RST, sedangkan pada 2026 terdapat 57 keluarga yang sedang menjalani proses asesmen untuk mendapatkan bantuan serupa.
Agus mengatakan Sekolah Rakyat di Kota Cirebon mulai beroperasi pada 2025 dan menjadi salah satu lokasi awal pelaksanaan program tersebut, yang menerima peserta didik jenjang sekolah dasar (SD).
“Saat pertama dibuka, program itu menampung 100 siswa yang terbagi dalam empat rombongan belajar, terdiri atas dua kelas SD dan dua kelas SMP,” katanya.
Agus menyebutkan, jumlah peserta didik berkurang menjadi 71 siswa karena beberapa faktor, seperti perpindahan tempat tinggal, kondisi kesehatan, dan ketidaksiapan mengikuti sistem pendidikan yang diterapkan.
Meski demikian, kata dia, hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan positif pada peserta didik, terutama dalam aspek kedisiplinan, kebersihan diri, kebiasaan beribadah, serta perilaku sehari-hari.
Agus menyampaikan untuk tahun ajaran 2026, Kota Cirebon memperoleh kuota 90 peserta didik baru yang terdiri atas masing-masing 30 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.
“Proses penjaringan calon peserta dilakukan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dengan mengacu pada data keluarga miskin ekstrem yang telah ditetapkan pemerintah pusat, sehingga program tersebut dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan,” kata dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.