Cianjur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, Jawa Barat, menginstruksikan seluruh dinas dan instansi agar merutinkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan masing-masing melakukan donor darah guna memenuhi kebutuhan darah di Cianjur, terutama bagi penderita thalasemia.

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian di Cianjur, Senin, mengatakan pemerintah daerah (pemda) akan terus mendorong UTD PMI Cianjur dalam memenuhi kebutuhan darah yang sempat mengalami krisis selama beberapa pekan terakhir dengan melibatkan puluhan ribu ASN.

Kegiatan donor darah rutin di lingkungan dinas dan instansi tersebut diperkuat dengan surat yang sudah disebar, dengan harapan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat sehingga kebutuhan darah di Cianjur dapat terpenuhi setiap bulannya.

"Kami minta seluruh kepala dinas dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) rutin menggelar donor darah masal di lingkungan kantor sebagai upaya pemenuhan kebutuhan darah di Cianjur," katanya.

Dia menjelaskan pemenuhan stok darah di Cianjur menjadi tanggungjawab bersama, karena setetes darah yang didonorkan dapat menyelamatkan banyak nyawa, terutama bagi penderita thalasemia yang jumlahnya mencapai 600 orang.

Para penderita wajib mendapatkan donor darah setiap bulan guna kelangsungan hidupnya, sehingga aksi donor darah yang dilakukan akan membantu banyak nyawa penderita kelainan darah tersebut.

Tidak hanya terkait ketersediaan darah, kata dia, guna pengolahan darah cepat dalam pemenuhan stok di UTD PMI Cianjur, pihaknya tengah mengupayakan bantuan alat Apheresis segera tersedia.

"Kami akan terus membantu PMI Cianjur dalam pemenuhan stok darah termasuk mengupayakan bantuan alat guna mempercepat proses pengolahan darah, sehingga stok darah selalu terpenuhi," katanya.

Namun pihaknya meminta PMI Cianjur lebih menggencarkan sosialisasi langsung atau media sosial terkait pentingnya donor darah dan biaya pengganti pengolahan darah yang masih banyak dipertanyakan masyarakat.

"Darah yang didonorkan harus menjalani berbagai proses sebelum ditranfusikan ke pasien, sehingga membutuhkan biaya pengolahan dengan mesin yang harganya tidak murah, sehingga bukan membeli darah tapi membayar biaya pengolahan darah ini harus disosialisasikan lebih gencar," katanya.



Pewarta: Ahmad Fikri
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026