Bandung (ANTARA) - Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengoptimalkan serapan pupuk subsidi menjelang musim tanam setelah realisasi penebusan hingga Mei 2026 masih mencapai sekitar 21.398 ton.

Kepala Distan Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, di Bandung, Kamis, mengatakan bahwa capaian tersebut masih berpeluang meningkat karena pola penebusan pupuk umumnya mengikuti aktivitas tanam petani yang memuncak pada paruh kedua tahun.

"Sampai dengan bulan Mei, itu alokasi kita baru tercapai rata-rata di angka 30 persen (21.398 ton) serapannya dari total alokasi pupuk subsidi, tapi nanti coba kita lihatlah sampai dengan nanti karena biasanya meningkat," katanya.

Dirinya merinci alokasi pupuk urea yang tercantum dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) mencapai 33.291 ton, sementara pupuk NPK (Nitrogen Fosfor Kalium) sebanyak 36.585 ton dan pupuk organik sebesar 1.450 ton sehingga total alokasi pupuk subsidi sebanyak 71.326 ton.

Untuk mengoptimalkan serapan tersebut, Distan Kabupaten Bandung melakukan pemantauan rutin terhadap penyaluran dan penebusan pupuk subsidi di lapangan agar sesuai dengan kebutuhan petani dan tidak terjadi keterlambatan distribusi.

Selain itu, pemerintah daerah juga menguatkan pemanfaatan data e-RDKK sebagai acuan penyaluran agar alokasi pupuk benar-benar tepat sasaran sesuai kebutuhan kelompok tani di setiap wilayah.

Distan juga terus mendorong percepatan penebusan dengan menyesuaikan pola distribusi berdasarkan musim tanam, terutama menjelang puncak kebutuhan pada periode September hingga Oktober.

Ina menjelaskan bahwa pada periode tersebut petani umumnya kembali aktif menggarap lahan setelah jeda tanam sehingga kebutuhan pupuk meningkat.

"Biasanya puncak pupuk itu ada di musim tanam kedua, yaitu di bulan September-Oktober, Biasanya itu pas hujan turun, petani lagi semangat karena mereka sudah lama tidak beraktivitas bertani," katanya.

Selain itu, Distan juga melakukan sosialisasi kepada petani bahwa pupuk subsidi dapat ditebus kapan saja sesuai kebutuhan dan kuota yang telah ditetapkan, sehingga tidak menumpuk di waktu tertentu.

Dirinya juga menjelaskan bahwa belum optimalnya serapan dipengaruhi beberapa faktor, termasuk sebagian petani yang masih menggunakan pupuk hasil produksi sendiri, serta kekhawatiran terhadap cuaca ekstrem yang turut mempengaruhi pola tanam petani.

"Yang pertama mungkin petani sudah bisa menggunakan pupuk hasilnya sendiri sehingga tidak menebus pupuk itu. Kedua, adanya istilah Godzilla El Nino jadi kesannya tuh serem. Jadi mereka takut enggak ada air," katanya.

Meski demikian, Ina memastikan pihaknya tetap optimistis serapan akan meningkat seiring dimulainya musim tanam kedua pada September hingga Oktober mendatang.



Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026