Bandung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mendorong strategi "premiumisasi" produk teh lokal untuk mendongkrak daya saing di pasar global menyusul penurunan nilai ekspor Indonesia untuk komoditas tersebut hingga sekitar 16 persen pada periode 2024-2025.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani di Bandung, Rabu, menilai penurunan ekspor teh dalam skala nasional tersebut salah satunya dipicu oleh rendahnya posisi tawar akibat dominasi penjualan dalam bentuk curah.
"Kita produsen nomor satu se-Indonesia, luas lahannya dan kemudian produksinya. Namun yang kita jual adalah teh curah, hampir semua teh curah yang berbentuk 'essence' atau ekstrak. Nah, ini kemudian berdampak kepada nilai jual yang rendah," kata Nining.
Nining menjelaskan perubahan preferensi pasar di sejumlah negara tujuan membuat teh curah asal Indonesia kalah bersaing di segmen pasar premium.
Salah satu langkah yang dilakukan oleh Pemprov Jabar untuk membantu jalan keluar persoalan tersebut adalah melalui ajang West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026: "The Golden Belt of Java: Coffee, Tea, and Cocoa for The Future", yang berlangsung pada 12-14 Juni 2026 di Summarecon Bandung.
Melalui acara tersebut, Pemprov Jabar berupaya membalikkan keadaan dengan memfasilitasi 72 pelaku usaha komoditas perkebunan (teh, kopi, kakao) untuk melakukan hilirisasi dan penataan merek (branding).
Sementara itu, Analis Perdagangan Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Perkebunan pada Ditjen PEN Kementerian Perdagangan RI Irman Adi Purwanto Moefthi saat ditemui di lain kesempatan mengatakan pemerintah pusat tengah membidik diversifikasi pasar baru untuk menyelamatkan komoditas teh nasional, di antaranya ke wilayah Rusia serta kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.
"Negara-negara seperti wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah, seperti halnya Mesir itu, bukan hanya tertarik pada kopi saja, tetapi sebenarnya teh ini juga sangat potensial untuk dipasarkan di sana. Kemudian juga wilayah seperti Rusia itu sangat tertarik sekali dengan teh ini," ujar Irman.
Melalui 'business matching' hibrida yang akan dilakukan di WIITEX 2026 yang mempertemukan eksportir dengan 42 buyer dari 11 negara, termasuk kehadiran langsung Duta Besar Pakistan, pemerintah optimistis pasar tujuan ekspor teh Jabar tidak hanya terkonsentrasi di Malaysia melainkan meluas ke wilayah baru.
Dari data terbaru dari Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo), menunjukkan pada 2025 volume ekspor teh hitam dan hijau sekitar 28 ribu ton (Januari-November), turun 13 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Sedangkan tren pertumbuhan positif terjadi pada volume ekspor kopi Jabar yang naik dari sekitar 3 juta ton pada 2024 menjadi 5,3 juta ton pada 2025.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada kakao olahan yang pada 2025 bernilai 687 juta dolar AS (volume 75 juta ton), dan pada triwulan I-2026 tersebut telah mengantongi nilai ekspor 123 juta dolar AS.
Pewarta: RPGEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.