Kuningan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyebut Upacara Adat Seren Taun 1957 Saka di wilayah Cigugur sebagai simbol persatuan dalam keberagaman yang mencerminkan harmonisasi masyarakat di tengah perbedaan budaya dan keyakinan.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar di Kuningan, Senin, mengatakan Seren Taun tidak hanya menjadi tradisi syukur atas hasil panen, tetapi juga memperkuat persaudaraan masyarakat.
Menurut dia, masyarakat Cigugur telah menunjukkan bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis.
Dian menilai Seren Taun merupakan miniatur Indonesia karena memperlihatkan kehidupan masyarakat yang rukun di tengah keberagaman budaya, adat, dan keyakinan.
“Persatuan bukan berarti harus sama, melainkan bagaimana berbagai perbedaan dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama,” katanya.
Ia mengatakan tradisi tersebut juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang selaras antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Selain menjadi warisan budaya, kata dia, Seren Taun dinilai berperan memperkuat identitas Kabupaten Kuningan hingga dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
“Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya yang melekat dengan Kabupaten Kuningan,” katanya.
Pihaknya pun berkomitmen mendukung pelestarian Seren Taun, termasuk mendorongnya menjadi bagian dari kalender budaya daerah mulai tahun depan.
“Tahun depan Seren Taun menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan. Kami dukung sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor pariwisata daerah,” katanya.
Ia menyampaikan kegiatan puncak Upacara Adat Seren Taun 1957 Saka digelar di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan pada Minggu (7/6) dengan dihadiri unsur pemerintah, tokoh adat, tokoh budaya, dan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Yayasan Tri Panca Tunggal sekaligus Ketua Panitia Seren Taun Dewi Kanti Setianingsih mengatakan perayaan tahun ini mengusung tema “Merdika Ngolah Rasa untuk Masa Depan Bangsa”.
Ia mengemukakan tema tersebut menegaskan Seren Taun tidak hanya menjadi tradisi syukur panen, tetapi juga sarana refleksi sosial dan kebangsaan.
“Tema ini mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan kemanusiaan sebagai bekal menghadapi masa depan bangsa,” ucap dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.