Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon, Jawa Barat, memperkuat sistem deteksi dini penyakit dengan mengoptimalkan peran puskesmas dan kader kesehatan guna mencegah potensi wabah maupun lonjakan kasus berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon Hendra Nirmala di Cirebon, Senin, mengatakan penguatan deteksi dini menjadi langkah penting karena tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks, baik dari ancaman penyakit menular maupun peningkatan kasus penyakit tidak menular.
Menurut dia, penanggulangan penyakit tidak dapat hanya bertumpu pada sektor kesehatan karena berkaitan erat dengan perilaku masyarakat, kondisi lingkungan, mobilitas penduduk, hingga kesiapan logistik.
Oleh karena itu pihaknya meminta fasilitas kesehatan tingkat pertama dan kader kesehatan mengoptimalkan skrining serta edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Optimalkan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas) dan kader di masyarakat untuk melakukan skrining serta edukasi pencegahan secara masif,” katanya.
Selain penguatan deteksi dini, pihaknya mendorong sinergisitas lintas sektor dalam pemetaan wilayah rawan penyakit, pemenuhan logistik medis, serta edukasi kebersihan lingkungan.
Hendra mengatakan setiap laporan potensi wabah maupun lonjakan kasus harus segera ditindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi KLB. “Segera tindak lanjuti setiap laporan potensi wabah atau lonjakan kasus, agar tidak meluas menjadi KLB,” katanya.
Atas dasar itu pihaknya menggelar rapat koordinasi (rakor) pencegahan dan pengendalian penyakit tingkat Kabupaten Cirebon yang melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, rumah sakit, puskesmas, serta pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon Eni Suhaeni mengatakan pembangunan kesehatan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, sehingga pengendalian penyakit memerlukan kesiapsiagaan tinggi, respons cepat, serta sistem penanganan yang terintegrasi.
Ia menyampaikan sasaran layanan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kabupaten Cirebon pada 2026 cukup besar, antara lain mencakup 48.556 orang terduga tuberkulosis (TBC) yang menjadi target deteksi dan pemeriksaan.
Pihaknya pun merinci terdapat 98.243 penderita hipertensi yang menjadi sasaran pelayanan kesehatan, 48.466 kelompok berisiko HIV, 21.023 penderita diabetes melitus, 15.367 kasus diare balita, serta 14.483 kasus pneumonia balita.
Eni menegaskan keberhasilan program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak dapat dicapai secara parsial oleh sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan kolaborasi yang solid dan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
“Kami berharap pertemuan koordinasi ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk merumuskan rencana aksi konkret yang implementatif dan akuntabel demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Cirebon, terkhusus dalam pencegahan dan pengendalian penyakit,” katanya.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.