Bandung Barat (ANTARA) - Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, memeriksa 11.547 ekor hewan kurban pada Idul Adha 1447 Hijriah.
Kepala Disnakan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti menyebutkan bahwa pemeriksaan dilakukan melalui metode ante mortem atau sebelum penyembelihan dilakukan di lapak pedagang dan peternakan hingga hari raya kurban.
“Total hewan kurban yang diperiksa sebelum disembelih atau ante mortem itu sebanyak 11.547 ekor. Paling banyak sapi,” kata Wiwin di Bandung Barat, Kamis.
Ia menyebutkan rincian dari 11.547 ekor hewan yang diperiksa tersebut terdiri atas sapi 6.127 ekor, domba 5.375 ekor, kerbau 21 ekor dan kambing 24 ekor.
Hasil pemeriksaan menunjukkan 10.116 ekor hewan dinyatakan sehat dan layak sehingga diberi tanda kalung sehat.
Sementara itu, 1.256 ekor belum cukup umur untuk dijadikan hewan kurban.
Selain itu, petugas juga menemukan 175 ekor hewan dalam kondisi sakit, terdiri atas sapi 84 ekor, domba 89 ekor dan kerbau 2 ekor. Kasus yang ditemukan didominasi gangguan mata dan penyakit orf.
“Yang sakit dan belum cukup umur tidak kami berikan tanda sehat karena tidak memenuhi syarat,” ujarnya.
Disnakan Kabupaten Bandung Barat juga melakukan pemeriksaan lanjutan post mortem setelah penyembelihan hewan kurban.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan daging yang dibagikan kepada masyarakat aman dikonsumsi serta bebas dari penyakit maupun parasit seperti cacing hati.
“Petugas masih di lapangan sampai hari Tasyrik untuk memastikan keamanan daging kurban,” katanya.
Untuk mendukung pengawasan, pihaknya menerjunkan 61 petugas, terdiri dari 33 personel internal dan 28 mahasiswa program koas serta Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Menurut Wiwin, kebutuhan hewan kurban di Bandung Barat dipenuhi dari peternak lokal maupun pasokan luar daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, serta beberapa wilayah di Jawa Barat.
Pewarta: Ilham NugrahaEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.