Sumedang (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang, Jawa Barat, memperkuat efisiensi penggunaan pupuk melalui pemetaan kondisi lahan dan pemupukan berimbang spesifik lokasi untuk menjaga produktivitas pertanian.
Kepala DKPP Sumedang, Tono Suhartono, mengatakan strategi tersebut dilakukan agar penggunaan pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lahan pertanian sehingga lebih efektif dan efisien.
“Efisiensi penggunaan pupuk melalui pemetaan kondisi lahan untuk mendukung pemupukan berimbang spesifik lokasi, meliputi tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara sesuai kondisi lahan serta target hasil,” katanya di Sumedang, Kamis.
Menurut dia, setiap wilayah pertanian memiliki kondisi tanah dan kebutuhan unsur hara yang berbeda sehingga penggunaan pupuk tidak bisa dilakukan dengan pola yang sama.
Dirinya menyebut hal tersebut membuat pemetaan lahan dinilai penting agar petani dapat menggunakan pupuk sesuai kebutuhan tanaman tanpa mengurangi hasil produksi.
“Setiap wilayah pertanian memiliki kondisi tanah dan kebutuhan unsur hara yang berbeda sehingga penggunaan pupuk tidak bisa disamaratakan," tambahnya.
Selain penerapan pemupukan berimbang, pihaknya juga terus memperkuat ketepatan sasaran pupuk bersubsidi melalui pemutakhiran data kebutuhan petani dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) maupun sistem elektronik e-RDKK.
“Ketepatan sasaran pupuk bersubsidi diperkuat melalui pemutakhiran data kebutuhan dalam RDKK dan e-RDKK serta pengawasan penyaluran agar sesuai ketentuan,” ujarnya.
Ia menuturkan pengawasan distribusi pupuk terus dilakukan agar penyaluran berjalan sesuai aturan dan pupuk bersubsidi benar-benar diterima petani yang berhak sesuai kebutuhan tanam di masing-masing wilayah.
Di sisi lain, DKPP juga mendorong penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah sebagai bagian dari upaya menjaga kesuburan lahan sekaligus menekan biaya produksi pertanian dalam jangka panjang.
“Penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah terus didorong untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan tanah jangka panjang,” katanya.
Selain penggunaan pupuk yang lebih efisien, pemerintah daerah juga memperkuat mekanisasi pertanian dan penerapan budidaya hemat input agar proses produksi pertanian menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Berdasarkan data serapan pupuk tahun 2025, Kecamatan Jatinunggal menjadi wilayah dengan tingkat serapan tertinggi, yakni pupuk Urea mencapai 1.794.682 kilogram dan NPK 1.475.253 kilogram.
Adapun Kecamatan Ujungjaya mencatat serapan Urea 1.525.648 kilogram dan NPK 1.374.331 kilogram, sedangkan Kecamatan Buahdua mencapai Urea 1.062.920 kilogram dan NPK 716.846 kilogram.
Sementara itu, Kecamatan Jatigede mencatat serapan Urea 983.148 kilogram dan NPK 685.967 kilogram, sedangkan Kecamatan Tanjungmedar memiliki serapan Urea 694.124 kilogram dan NPK 805.378 kilogram.
Ia menyebut tingginya serapan pupuk tersebut menunjukkan sektor pertanian di Sumedang masih menjadi penopang utama ekonomi masyarakat sehingga efisiensi penggunaan pupuk dan tata kelola distribusi akan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan daerah.
Pewarta: Ilham NugrahaEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.