Cirebon (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyebut Pergelaran Wayang Kulit Pedalangan Gegesik atau Saptawara menjadi ruang regenerasi dalang sekaligus upaya menjaga keberlangsungan seni tradisional di daerah tersebut.

Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno di Cirebon, Sabtu, mengatakan kegiatan budaya yang digelar di Alun-Alun Kecamatan Gegesik hingga 14 Mei 2026 itu, memiliki peran penting dalam mempertahankan eksistensi seni pedalangan khas Cirebon.

“Pemerintah daerah mengapresiasi Gegesik yang tetap konsisten melahirkan dalang-dalang muda,” katanya.

Penyelenggaraan Saptawara yang kini memasuki tahun ke-33, katanya, menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat di Kecamatan Gegesik dalam menjaga tradisi budaya daerah.

Ia mengemukakan tidak banyak kecamatan di Kabupaten Cirebon yang mampu mempertahankan pergelaran seni tradisional hingga puluhan tahun.

Fajar menilai keberadaan pergelaran tersebut penting karena memberikan ruang bagi dalang muda untuk tampil sekaligus belajar dari para dalang senior.

“Regenerasi menjadi tantangan dalam dunia pedalangan, karena keberlanjutan seni tradisional sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda,” katanya.

Selain itu, kata dia, Kecamatan Gegesik selama ini dikenal sebagai salah satu pusat seni dan budaya pewayangan di Kabupaten Cirebon.

Ia menekankan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan di wilayah tersebut, melestarikan budaya agar tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

“Kami mendukung pelaksanaan pagelaran budaya seperti Saptawara agar dapat berlangsung secara berkesinambungan setiap tahun,” katanya.

Ketua Panitia Saptawara sekaligus dalang Sudarso mengatakan dukungan pemerintah dibutuhkan para seniman dalam menjaga pelestarian budaya sekaligus memperkuat proses regenerasi dalang di Cirebon.

Pergelaran tahun ini, kata dia, melibatkan sejumlah dalang dari wilayah Cirebon dan sekitarnya serta menjadi agenda budaya tahunan masyarakat di Kecamatan Gegesik.

“Kami berharap kegiatan ini terus mendapat dukungan dan bimbingan agar bisa terselenggara setiap tahun sebagai bagian dari pelestarian budaya,” katanya.



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026