Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat mengkaji pemanfaatan limbah cangkang kerang hijau menjadi bahan paving block hingga pakan ternak, sebagai upaya mengatasi penumpukan limbah tersebut di wilayah pesisir.

Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman di Cirebon, Kamis, mengatakan kajian tersebut sudah dibahas dalam rapat bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait.

Ia menjelaskan rapat tersebut difokuskan pada penanganan penumpukan limbah cangkang kerang hijau di Desa Grogol dan Desa Mertasinga, Cirebon yang selama ini menimbulkan persoalan lingkungan dan sosial bagi masyarakat.

“Sudah ada pemetaan sehingga pemerintah daerah bisa meminimalisasi atau menyelesaikan limbah kerang hijau ini,” katanya.

Ia menyebutkan secara geografis Kabupaten Cirebon memiliki wilayah pesisir, dengan tujuh tempat pelelangan ikan (TPI) yang tersebar di delapan kecamatan dan mencakup 36 desa.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat produksi kerang hijau cukup tinggi, namun di sisi lain memicu peningkatan limbah cangkang yang belum tertangani optimal.

Untuk langkah jangka pendek, kata dia, pemerintah daerah mempertimbangkan pengangkutan limbah ke tempat pembuangan akhir (TPA), yakni Gunung Santri dan Kubangdeleg.

Selain itu, ia menyebutkan, limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai material uruk melalui proses penggilingan untuk pemadatan jalan maupun tambak kosong.

“Penangan jangka pendeknya, limbah ini bisa digilas dan digunakan untuk pemadatan jalan atau tambak kosong yang mau diuruk,” katanya.

Dalam jangka panjang, kata dia, limbah kerang dengan struktur kuat berpotensi diolah menjadi bahan baku alternatif seperti paving block.

Ia mengatakan pemanfaatan lain yang turut dikaji meliputi kerajinan serta campuran pakan ternak dengan komposisi terbatas, karena bahan tersebut mengandung kalsium.

“Bisa juga untuk pakan ternak, tetapi persentasenya sekitar lima persen karena hanya untuk menguatkan cangkang telur,” ujarnya.

Sejumlah warga Desa Mertasinga mengeluhkan tumpukan limbah cangkang kerang yang telah berlangsung lebih dari lima tahun tanpa penanganan signifikan.

Warga setempat, Waliman mengatakan, tumpukan tersebut menimbulkan bau menyengat dan mempersempit akses jalan, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.

“Panjang tumpukan limbah ini sekitar satu kilometer, dengan ketebalan sekitar empat meter,” katanya.



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026