Cirebon (ANTARA) - Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, Jawa Barat, mengingatkan masyarakat di wilayahnya untuk menjaga kualitas rekam jejak kredit melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) karena dapat memengaruhi peluang kerja.
Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib di Cirebon, Rabu, mengatakan SLIK tidak lagi hanya digunakan untuk pengajuan kredit, tetapi menjadi salah satu indikator dalam proses rekrutmen pegawai di sejumlah sektor.
“SLIK ini bukan hanya untuk orang yang membutuhkan pembiayaan atau kredit, tetapi menjadi salah satu indikator dalam proses rekrutmen,” katanya.
Ia menjelaskan banyak lulusan baru yang tidak menyadari bahwa catatan kredit, termasuk tunggakan kecil dari layanan paylater atau pinjaman daring, dapat berdampak pada peluang kerja.
Menurut dia, tunggakan dengan nominal relatif kecil sekalipun, jika tercatat dalam kondisi macet, dapat menjadi kendala pada proses seleksi kerja.
“Masyarakat itu terlalu gampang mungkin dulu, pinjam melalui paylater, melalui pinjaman online, tapi lupa bayar. Meskipun tidak besar kalau kondisinya kualitasnya macet, itu menjadi persoalan,” ujar dia.
Selain itu, Agus pun menyoroti masih maraknya kasus penipuan di sektor jasa keuangan yang turut memengaruhi kondisi catatan kredit masyarakat.
Atas dasar itu, OJK Cirebon menggelar edukasi keuangan secara masif di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.
“Selama triwulan I-2026, kami melaksanakan 59 kegiatan edukasi keuangan secara daring dan luring dengan total 7.324 peserta,” katanya.
Ia menegaskan upaya tersebut dilakukan untuk memperluas literasi keuangan sekaligus mendorong masyarakat lebih bijak, dalam menggunakan layanan keuangan.
Agus menuturkan pihaknya telah memproses sebanyak 4.770 permintaan layanan SLIK per Maret 2026, dengan rincian 3.021 permintaan secara offline atau walk-in serta 1.749 permintaan daring.
“Selain SLIK, total ada sebanyak 901 layanan konsultasi dan pengaduan konsumen yang masuk ke OJK Cirebon. Pengaduan didominasi oleh fintech lending sebesar 32,85 persen atau 296 layanan,” ujar dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.