Cimahi (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Jawa Barat, melakukan pemetaan wilayah rawan dalam mengantisipasi potensi kekeringan pada musim kemarau yang diprediksi lebih kering akibat El Nino.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fitriandy Kurniawan di Cimahi, Kamis, mengatakan pihaknya telah memetakan wilayah rawan kekurangan air bersih berdasarkan pengalaman musim kemarau sebelumnya.
“Sudah kami petakan wilayah rawan. Dari total 312 RW di 15 kelurahan, sekitar 270 RW pernah melaporkan kekeringan atau kesulitan air bersih. Jadi tingkat kerawanan memang tinggi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa BPBD telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menggandeng sejumlah instansi terkait untuk penanganan cepat jika terjadi krisis air bersih.
“Apabila ada laporan kekurangan air bersih, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Perumda Tirta Raharja untuk menyuplai air bersih,” ujarnya.
Selain kekeringan, BPBD juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk.
Menurut Fitriandy, wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran lahan berada di kawasan selatan seperti Cireundeu serta wilayah utara di Cipageran dan sekitarnya.
“Untuk kebakaran lahan, kategorinya sedang. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kejadian didominasi kebakaran alang-alang,” katanya.
Sementara itu, untuk kebakaran permukiman, BPBD terus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Cimahi guna mempercepat penanganan jika terjadi insiden.
BPBD juga terus memantau perkembangan cuaca melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat akan datang lebih cepat dengan curah hujan di bawah normal sehingga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPBD Cimahi petakan daerah rawan antisipasi dampak El Nino
Pewarta: Ilham NugrahaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.