Cirebon (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon, Jawa Barat, mengembangkan program urban farming terpadu yang mengombinasikan aktivitas budidaya tanaman, ayam petelur, serta perikanan di lahan sempit.

Kepala DKP3 Kota Cirebon Elmi Masruroh di Cirebon, Senin, mengatakan program tersebut menjadi strategi menghadapi keterbatasan lahan pertanian yang kini tersisa kurang dari 94 hektare di daerahnya.

Pihaknya membuat konsep budidaya yang unik untuk menarik minat masyarakat, salah satunya dengan memberi nama pada ayam petelur serta melengkapi pencatatan produksi dan kesehatan ternak.

“Kami pun memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan kandang agar tetap bersih dan tidak menimbulkan bau, termasuk penggunaan kapur sebagai salah satu cara menjaga lingkungan,” katanya.

Ia menyampaikan program tersebut dirancang agar mudah diterapkan, tidak rumit, dan tetap nyaman dijalankan oleh masyarakat di kawasan padat penduduk.

Program urban farming ini, kata dia, mulai diadopsi masyarakat, termasuk di tingkat kelurahan yang membangun kandang ayam petelur secara swadaya melalui iuran warga setelah mendapat pendampingan dari DKP3.

“Kami terus melakukan pendampingan melalui petugas lapangan, mulai dari pemberian pakan, perawatan, hingga vaksinasi dan pengobatan ternak,” katanya.

Elmi menuturkan terdapat kelompok binaan peternak ayam petelur di Kelurahan Kalijaga dan Argasunya, masing-masing dengan sekitar 600 ayam dari bantuan Kementerian Pertanian yang kini telah berproduksi setiap hari.

Selain itu, pihaknya mengembangkan proyek percontohan skala kecil dengan 17 ayam petelur yang dikelola secara swadaya oleh internal pegawai DKP3 untuk memahami langsung kendala di lapangan.

“Dari 17 ekor ayam bisa menghasilkan hingga 17 butir telur per hari, bahkan pernah mencapai produksi penuh,” ujarnya.

Ia menyebutkan biaya awal pengembangan skala rumah tangga berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta, sudah termasuk kandang, ayam, dan pakan awal, sehingga relatif terjangkau bagi masyarakat.

“Hasil produksi telur tidak hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga dapat dijual, sementara limbah kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman dalam sistem pertanian terpadu,” tuturnya.

Elmi menambahkan program ini pun mulai diterapkan di sejumlah lokasi di Kota Cirebon, karena sudah ada kelompok binaan yang saat ini telah memiliki tanaman hortikultura, kolam ikan, dan akan ditambah ayam petelur.

“Hasil panen kelompok binaan juga dipasarkan melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM), sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat,” ucap dia.

 



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026