Majalengka (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mencatat produksi padi dari hasil panen petani di daerah tersebut sudah mencapai 204.261 ton gabah pada Januari hingga Maret 2026.

Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman di Majalengka, Sabtu, mengatakan capaian tersebut berasal dari luas panen sekitar 31.253 hektare selama tiga bulan pertama di tahun ini, yang menunjukkan kinerja sektor pertanian masih relatif terjaga.

“Capaian produksi sampai Maret cukup positif, dengan luas panen 31.253 hektare dan produksi 204.261 ton gabah,” ujarnya.

Menurut dia, capaian tersebut menjadi indikator bahwa produktivitas pertanian di daerahnya tetap stabil meskipun dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak menentu sejak awal tahun.

Ia menyebutkan dinamika curah hujan yang tidak merata sebelumnya, sempat berdampak pada keterlambatan jadwal tanam di sejumlah wilayah.

Meski demikian, Gatot mengatakan sebagian besar petani kini mulai memasuki masa panen Musim Tanam I (MT I) dan bersiap melanjutkan ke Musim Tanam II (MT II).

Selain itu, pihaknya mengingatkan adanya potensi tantangan ke depan seiring prediksi musim kemarau 2026 yang datang lebih cepat dari biasanya.

“Berdasarkan rilis Stasiun Klimatologi Jawa Barat, musim kemarau tahun ini diperkirakan didominasi curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah,” katanya.

Ia menuturkan awal musim kemarau diprakirakan berlangsung bertahap mulai Maret hingga Juni, dengan puncak kemarau terjadi pada Mei 2026.

Pihaknya mendata sejumlah wilayah di Majalengka seperti Kecamatan Jatitujuh, Ligung, dan sebagian Kertajati dilaporkan mulai menghadapi kendala pasokan air irigasi.

Oleh karena itu, DKP3 Majalengka meminta para petani agar segera melakukan percepatan tanam setelah panen guna memanfaatkan sisa ketersediaan air.

“Seluruh petugas lapangan sudah kami minta siaga, terutama untuk daerah sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan,” kata Gatot.

Ia menekankan sinergisitas antara pemerintah daerah dan petani, menjadi kunci menjaga produktivitas di tengah ancaman perubahan iklim.

“Dengan langkah antisipatif tersebut, diharapkan produksi padi di Kabupaten Majalengka tetap terjaga hingga akhir tahun 2026,” katanya.

 



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026