Bandung (ANTARA) - Terminal Leuwipanjang, Bandung, disorot negatif dari aspek kenyamanan dan layanan seperti eskalator mati dan asap rokok menjadi sorotan dari masyarakat pengguna fasilitas umum tersebut.

Seperti Julian (30), seorang pemudik dari Palembang yang ditemui di lokasi, Kamis, mengaku kesulitan dengan kondisi eskalator di Gedung A yang merupakan tempat turun penumpang sehingga harus berjalan di eskalator yang mati dengan menenteng barang bawaan bersama anak istrinya untuk mengakses bus kota yang lebih nyaman melalui lantai dua.

"Ya cukup kesulitan juga, kan dari sini mau ambil bus kota harus ke jajaran depan antrean bus lewat lantai dua biar tidak lewat tempat parkir bus. Harusnya sih momen begini berfungsi ya," ujarnya, Kamis.

Selain soal eskalator yang tidak berfungsi saat dibutuhkan seperti momen lebaran ini, soal asap rokok juga menjadi sorotan penumpang bus dari Terminal Tipe A tersebut, di mana banyak yang terlihat merokok bukan di tempat yang ditentukan meski bukan di area gedung yang tertutup.

Rizky (38), seorang pemudik yang akan kembali ke Bekasi, menyayangkan kondisi tersebut yang menurutnya mengurangi kenyamanan dari fasilitas yang terbilang sudah bagus tersebut, terlebih jika penumpang membawa serta anak-anaknya yang rentan terpapar asap berbahaya itu.

"Sangat disayangkan ya, saya yang bawa anak juga jadi harus cepat-cepat ke bus biar keluarga tidak terlalu terpapar asap. Harapannya dipastikan ada area khusus merokok dan penegakan aturan sih biar nyaman dan aman. Karena kalau sekarang jadi kurang nyaman dan kotor juga karena puntungnya di mana saja," ucap dia.

Menanggapi hal-hal tersebut, Kepala Terminal Leuwipanjang Asep Hidayat mengatakan sorotan dari masyarakat akan menjadi masukan pihaknya dalam melaksanakan evaluasi guna perbaikan fasilitas terminal ke depannya.

Terkait elevator yang tidak berfungsi padahal sangat dibutuhkan oleh para pemudik, Asep menjelaskan bahwa pihak terminal sengaja mematikannya sehubungan dengan ketiadaan mekanik saat waktu libur seperti periode Lebaran 2026.

"Jadi memang ini sengaja disiasati karena bila panas suka mati sendiri, sementara mekanik eskalator dari vendor tidak hadir kalau libur," ujar Asep.

Terkait kemungkinan merekrut mekanik sendiri oleh pihak terminal sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi, Asep mengatakan hal itu jadi kewenangan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Jawa Barat.

"Ini juga jadi evaluasi ya. Vendor itu sudah kontrak dengan kita untuk setahun. Untuk pengadaan mekanik itu kewenangan BPTD kita yang usulkan, karena anggaran bukan di kita," ucapnya.

Adapun terkait isu asap rokok, Asep mengatakan terminal sejatinya telah menyiapkan ruang khusus yakni di lantai dua yang terlewati oleh penumpang ketika menuju bus, serta area khusus di shelter tempat deretan kantor Perusahaan Otobus (PO).

"Tapi memang belum terbatas hanya di tempat itu, jadi masih ada yang di jalur bus, jalur penumpang, di bawah pohon dan lainnya. Tapi tidak ada yang di area gedung, karena sudah tahu," ucapnya.

Namun Asep mengatakan hal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depannya, salah satunya dengan menentukan titik area merokok, serta penambahan tempat pembuangan sampah rokok agar bisa bersih.

"Memang harus ditentukan titik tertentu di luar ruangan untuk area merokok, yang memang jauh dari kerumunan, itu juga jadi acuan saya. Kemudian vendor kebersihan juga kami akan minta untuk memperhatikan soal sampah puntung rokok," ucapnya menambahkan.



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026