Bandung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat membuka peluang bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) untuk mengakses investor, dan memangkas ketergantungannya pada produk impor, lewat Program Inkubasi IKM 2026.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Nining Yuliastiani menyatakan program yang berkolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) ini, menargetkan 200 IKM terpilih untuk naik kelas secara manajerial maupun kualitas produk.
"Produk IKM harus bisa masuk dalam rantai pasok industri dan menjadi bagian dari value chain lokal yang mampu menggantikan bahan impor. Tantangan terbesar kita saat ini adalah aspek keberlanjutan dan keberanian untuk terus berkembang," ujar Nining dalam keterangan di Bandung, Senin.
Nining mengungkapkan, rendahnya daya saing terhadap produk impor masih menjadi rapor merah yang dipicu oleh kesenjangan kapasitas dan standar kualitas. Melalui program ini, para pelaku usaha tidak hanya dilatih secara teknis, tetapi juga disiapkan untuk melakukan presentasi atau pengenalan (pitching) di depan calon investor.
Program ini menyediakan pendampingan intensif selama tiga bulan, mencakup diagnosis kesehatan bisnis, manajemen usaha, hingga penyusunan pitching deck untuk menarik pendanaan.
Selain itu, peserta akan mendapatkan fasilitas eksklusif dari Science Techno Park (STP) UI serta sertifikasi gratis mulai dari Halal, HAKI Merek, hingga sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Kami ingin IKM di Jabar tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas dan mampu mengakses pasar yang lebih luas. Melalui kerja sama dengan STP UI, kami berharap IKM dapat terfasilitasi secara lebih terstruktur," ucap Nining.
Pendaftaran program telah dibuka secara daring melalui tautan https://bit.ly/LinkPendaftaranIKMIstimewa mulai 26 Februari hingga 17 Maret 2026.
Disperindag Jabar memastikan proses seleksi akan menyasar pelaku IKM di 27 kabupaten/kota guna memperkuat digitalisasi keuangan dan modernisasi manajerial agar mampu bersaing di pasar global.
Pewarta: Ricky PrayogaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.