Cianjur (ANTARA) - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, meminta guru dan orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak didik dengan memastikan keberadaan mereka saat di sekolah atau di lingkungan rumah selama bulan puasa.

Kepala Disdikpora Cianjur Ruhli Solehudin di Cianjur, Senin, mengatakan hal tersebut guna mengantisipasi maraknya aksi tawuran dan perang sarung yang dilakukan pelajar atau remaja di sejumlah wilayah saat bulan puasa.

"Kami minta seluruh guru SD dan SMP di Cianjur berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk meningkatkan pengawasan terhadap peserta didik, saat berada di sekolah atau di luar sekolah, pastikan mereka berada di rumah setelah tarawih dan saat sahur," katanya.

Dia menjelaskan imbauan tersebut telah disampaikan sebelum masuknya bulan puasa, dimana pihak sekolah diminta aktif mengarahkan siswa agar mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan bernilai ibadah.

Para siswa selama berada di rumah, kata dia, didorong melakukan berbagai aktivitas, seperti pengajian di masjid atau lingkungan tempat tinggal, agar mereka tidak terlibat dalam kegiatan yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Seluruh satuan pendidikan, lanjut dia, mengingatkan siswa agar memanfaatkan bulan suci Ramadhan dengan melakukan berbagai kegiatan positif, serta orang tua diminta untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak selama bulan puasa.

"Kami menekankan pentingnya kontrol dari keluarga terutama pada malam hari, dimana siswa diminta tidak berkegiatan di luar rumah tanpa pendampingan sehingga tidak terlibat dalam aksi tawuran atau perang sarung yang dapat merugikan diri dan orang lainnya," kata Ruhli.

Untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya berkoordinasi dengan berbagai unsur mulai dari kepala sekolah hingga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) se-Cianjur untuk melakukan langkah yang sama.

Ketika ditemukan siswa yang terindikasi terlibat tawuran atau perang sarung, pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian guna dilakukan penanganan lebih lanjut dan sanksi tegas diberikan sesuai ketentuan yang berlaku dengan mengedepankan pembinaan.

"Pencegahan sejak dini lebih efektif dibanding penindakan setelah kejadian, sehingga ini harus menjadi perhatian bersama mulai dari guru, orang tua, dan masyarakat sekitar guna mencegah aksi siswa yang dapat merugikan diri, orang lain, terutama masa depan," katanya.



Pewarta: Ahmad Fikri
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026