Bandung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat sepanjang tahun 2025, produksi padi di daerah itu mencapai 10,23 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 18,54 persen dibanding tahun sebelumnya.

Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat, Ninik Anisah di Bandung, Senin, mengungkapkan lonjakan produksi sebesar 1,60 juta ton atau 18,54 persen dibandingkan tahun 2024 tersebut, dipicu oleh ekspansi luas panen yang mencapai 1,76 juta hektare.

Ninik mengatakan pertumbuhan ini merata di seluruh periode laporan. Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan sebanyak 0,28 juta hektare dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang seluas 1,48 juta hektare.

"Luas panen padi Jawa Barat berdasarkan angka tetap tahun 2025 yang didapat dari hasil Survei KSA tahun 2025 mencapai 1,76 juta hektare. Luas panen tahun 2025 mengalami peningkatan sebanyak 0,28 juta hektare atau 18,97 persen dibandingkan luas panen padi pada tahun 2024," ujar Ninik.

Data BPS menunjukkan akselerasi terbesar terjadi pada Subround 1 (Januari-April) dengan kenaikan luas panen mencapai 38,54 persen. Hal ini berdampak langsung pada ketersediaan pangan di tingkat konsumen.

"Berdasarkan angka tetap 2025, produksi beras di Jawa Barat sebesar 5,91 juta ton beras di mana mengalami peningkatan 0,92 juta ton atau 18,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebagai dampak dari peningkatan produksi padi yang terjadi," kata Ninik.

Dari sisi spasial, Kabupaten Indramayu masih mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan utama dengan Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 126.088 hektare, dari total 916.798 hektare LBS di seluruh Jawa Barat. Sebaliknya, Kota Depok tercatat memiliki luas baku sawah terkecil yakni hanya 40 hektare.

Capaian ini memberikan optimisme ke kuartal pertama 2026. BPS memprediksi potensi luas panen padi periode Januari-Maret 2026 mampu menyentuh 0,42 juta hektare, atau naik 20,89 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dengan asumsi tersebut, produksi padi pada awal tahun depan diperkirakan mencapai 2,48 juta ton GKG atau setara 1,43 juta ton beras.

Selain padi, komoditas jagung mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih agresif. Produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen sepanjang 2025 melonjak 40,85 persen menjadi 794,82 ribu ton.

"Puncak panen jagung pipilan pada 2025 terjadi pada bulan Maret, dengan luas panen sebesar 16,32 ribu hektare. Sama halnya dengan puncak panen pada 2024 yang terjadi di bulan Maret," kata Ninik.

Pada periode pembuka 2026, produksi jagung diprediksi masih akan berada di jalur hijau dengan perkiraan mencapai 330,96 ribu ton, naik 8,38 persen dari realisasi tahun lalu.

"Angka produksi jagung Januari–Maret 2026 merupakan angka sementara karena menggunakan angka potensi luas panen dan menggunakan rata-rata produktivitas SR I 2024-2025," tutur Ninik.

Ia menambahkan capaian dua digit pada sektor padi dan jagung ini menjadi modal kuat bagi Jawa Barat dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus menyokong ketahanan pangan nasional di tengah tantangan iklim global.

 



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026