Melihat sentimen luar negeri, permintaan dolar cenderung menguat saat ketidakpastian global meningkat, eskalasi ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS, sehingga mata uang negara berkembang turut tertekan.
Adapun dari domestik, pasar sedang sangat peka terhadap isu fiskal seiring muncul kekhawatiran defisit anggaran melebar dan kebutuhan pembiayaan bertambah, sehingga pelaku pasar menambah kebutuhan dolar dan menahan masuk dana baru.
Pelebaran defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bisa pula meningkatkan kebutuhan pembiayaan dan menambah sensitivitas pasar terhadap pasokan surat utang pemerintah.
“Dalam kondisi seperti ini, tekanan rupiah sering sulit ditahan hanya dengan operasi stabilisasi jangka pendek, apalagi jika kekhawatiran fiskal dianggap belum mereda,” ujar dia
“Selain itu, pasokan valas di pasar bisa melemah saat surplus dagang menyusut dan jika ada perubahan aturan devisa hasil ekspor yang membuat konversi valas ke rupiah menjadi lebih lambat, karena itu langsung mengurangi pasokan valas harian di pasar,” ucap Kepala Ekonom Permata Bank itu.
Josua menyampaikan bahwa Bank Indonesia (BI) saat ini menegaskan tetap berada di pasar untuk menjaga rupiah bergerak sejalan dengan nilai dasar. Stabilitas ditopang oleh bauran stabilisasi yang aktif, aliran masuk dana asing ke SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan pasar saham, premi risiko yang rendah, serta cadangan devisa yang masih kuat.
Dengan demikian, skenario Rp17 ribu lebih mungkin terjadi dalam bentuk pelemahan yang bertahap dan bergejolak, bukan pelemahan yang tak terkendali.
Implikasi apabila rupiah benar-benar menyentuh Rp17 ribu, lanjutnya, terutama terasa pada kenaikan biaya impor bahan baku dan barang modal, naiknya risiko tekanan harga pangan dan energi, potensi tambahan beban subsidi dan kompensasi, serta ruang pelonggaran suku bunga yang kian sempit karena stabilitas rupiah dan arus dana harus dijaga.
“Di sisi lain, ada manfaat bagi penerima devisa seperti eksportir, tetapi manfaat itu biasanya terbatas jika pelemahan terjadi cepat, sehingga mengganggu keyakinan pelaku usaha dan memicu penundaan investasi atau pembelian,” ungkap Josua.
Baca juga: Nilai tukar Rupiah pada Rabu pagi menguat jadi Rp16.955 per dolar AS
Baca juga: Akademisi sebut RDMP bisa menjadi benteng stabilitas rupiah
Baca juga: Nilai tukar Rupiah dekati Rp17 ribu, ekonom nilai BI perlu perkuat pasokan valas
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Analis: Kurs rupiah dapat membaik jika ada kepastian arah kebijakan
Pewarta: M Baqir Idrus AlatasEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.