Meski demikian, publik melalui media sosial menyayangkan langkah tersebut. Perubahan gaya arsitektur pagar yang cenderung "nyunda" atau bergaya kerajaan, dinilai tidak sinkron dengan arsitektur Indo-Europeeschen architectuur stijl yang melekat pada Gedung Sate.
"Atuhlah, itukan peninggalan Belanda bukan peninggalan Padjadjaran. Jadi asa gak nyambung," tulis salah satu warganet di Instagram yang ramai dikutip publik.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta polemik terkait perubahan desain gerbang Gedung Sate yang kini bergaya Candi Bentar tidak perlu diperpanjang dengan berpatokan pada komentar di media sosial, melainkan harus mempercayai keahlian arsitek.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Dedj menanggapi gelombang kritik warganet yang menilai desain baru pagar senilai miliaran rupiah itu menabrak pakem arsitektur kolonial Belanda yang menjadi identitas Gedung Sate.
"Jangan ikutin netizen, tapi ikutin arsitek. Kalau ikutin netizen gak akan selesai," ujar Dedi Mulyadi usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Kamis (20/11).
Dedi menegaskan bahwa pembangunan di kawasan bersejarah harus diserahkan kepada ahlinya, dalam hal ini arsitek tata ruang yang memahami filosofi bangunan, bukan berdasarkan selera publik di dunia maya yang beragam.
"Ikuti arsitek yang ahli dalam bidang tata ruang, terutama ruang-ruang yang bersejarah," tutur Dedi.
