Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menjajaki kolaborasi strategis dengan Yayasan Rawindra Kata Hara dalam pilot project "The Cianjur Experience" yang mengintegrasikan Musik Cianjuran, kopi Cianjur, dan narasi sejarah lokal.
Inisiatif ini bertujuan mengubah paradigma pemasaran daerah dari sekadar menjual produk menjadi menawarkan pengalaman budaya yang utuh, dengan Kementerian berperan sebagai penggerak sinergi lintas kementerian dan subsektor.
“Program ini memiliki potensi besar yang sejalan dengan KPI kami di Kemenekraf, terutama terkait kontribusi terhadap tenaga kerja, investasi, dan ekspor. Agar dampaknya bisa konkret dan luas, kami tidak bisa bekerja sendiri, banyak pihak yang perlu dilibatkan. Kami siap menjadi orkestrator untuk menguatkan sinergi lintas kementerian dan lintas subsektor dalam mendukung program ini,” ujar Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Yayasan Rawindra Kata Hara merupakan organisasi yang berfokus pada penguatan literasi di Indonesia, terinspirasi dari semangat intelektual Ramadhan K.H. Yayasan ini tengah menyusun pilot project “The Cianjur Experience: Integrasi Musik Tradisi, Komoditas, dan Sejarah Daerah” yang bertujuan membangun strategi pemasaran daerah melalui pendekatan terpadu antara musik tradisi, komoditas unggulan, dan sejarah lokal.
Kabupaten Cianjur dipilih sebagai studi awal, dengan fokus pada Musik Cianjuran, kopi Cianjur, dan narasi sejarah yang menghubungkan budaya dan ekonomi kreatif daerah.
Pihak Yayasan Rawindra menilai potensi kopi di Indonesia masih belum dioptimalkan secara maksimal dan bertujuan untuk mengubah pendekatan dari menjual produk menjadi menjual pengalaman untuk meningkatkan daya tarik global.
Selaras dengan tujuan ini, Menekraf menyebutkan kekuatan narasi menjadi strategi kunci dalam mendongkrak investasi di subsektor ekonomi kreatif.
“Investasi subsektor ekraf di semester pertama tahun ini mencapai 66 persen. Harapannya angka ini terus meningkat melalui program seperti ini, yang mengusung strategi storytelling dalam memasarkan produk kreatif berbasis kearifan lokal,” ujar Teuku.
Sementara itu, Delegasi Yayasan Rawindra Kata Hara, Aming Sukandar, menjelaskan bahwa luas perkebunan kopi nasional saat ini mencapai hampir 1,3 juta hektare, meningkat signifikan dari sekitar 800 ribu hektare pada 2015.
Namun, potensi ekspor belum optimal karena penyerapan kopi di pasar domestik jauh lebih besar dibandingkan dengan ekspor, sehingga peran pemerintah diperlukan untuk memperkuat tata kelola dan roadmap industri kopi nasional.
