"Kita memiliki potensi mineral kritis dan logam tanah jarang yang cukup besar. Selama ini belum termanfaatkan secara maksimal, padahal kebutuhan industri dalam negeri dan pengembangan teknologi hilirisasi sangat besar," ujar Yuliot.
Bagi Badan Geologi yang bertugas mengidentifikasi potensi sumber daya alam termasuk energi dan mineral, kerja sama ini membuka ruang kolaborasi lintas sektor yang semakin lebar untuk kegiatan eksplorasi sumber daya alam.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid, mengungkapkan kerja sama pihaknya dengan perguruan tinggi saling mengisi, di mana Badan Geologi memiliki alat dan sarananya, kemudian perguruan tinggi memiliki teori dan ilmu seputar sumber daya alam.
"Kampus punya ilmunya, kami punya alat, punya sarana. Nah, berkolaborasi bagaimana memaksimalkan untuk mengidentifikasi di subsurface di Indonesia itu punya apa, termasuk litium coba kita cari, kita cari juga LTJ," ujar Wafid.
Rektor UPN Veteran Yogyakarta Mohamad Irhas Effendi mengatakan, dengan pihaknya bersama tiga kampus lainnya mendapatkan penugasan eksplorasi, menjadi upaya penting meningkatkan keterlibatan kampus dalam pemetaan potensi sumber daya alam nasional.
Namun kerja sama antara kementerian dengan perguruan tinggi, tidak berkaitan dengan pengelolaan tambang atau pemberian konsesi.
"Melainkan ini hanya murni eksplorasi," tutur Irhas.
Dengan berbagai terobosan dan usaha yang dilakukan tersebut, ada target besar agar Indonesia bisa memiliki kedaulatan sumber daya alam.
Dengan kedaulatan tersebut, rakyat dan industri akan memperoleh energi atau mineral dengan harga terjangkau dan aman, karena pasokannya terjamin.
Ujungnya, dengan terjaminnya pasokan energi atau mineral secara berkelanjutan, ditopang arah kebijakan pembangunan yang baik dan sumber daya manusia yang memiliki kemandirian, Indonesia diharapkan bakal mencapai tahap swasembada energi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menggapai swasembada energi-mineral dengan optimalisasi eksplorasi
