Bandung (ANTARA) - Bandung Zoo atau Kebun Binatang Bandung, pada akhir 2025 bersiaga menyambut kelahiran bayi Tapir Asia (Tapirus indicus) dari induknya yang bernama Tinuk.
“Semoga semuanya berjalan lancar dan Tinuk, juga calon anaknya sehat,” kata Juru Bicara Yayasan Margasatwa Tamansari Ully Rangkuti di Bandung, Jumat.
Bagi kebun binatang di jantung Kota Bandung ini, kata dia, kelahiran tapir selalu jadi momen istimewa. Bukan hanya karena tapir termasuk satwa yang jarang melahirkan, tapi juga karena keberadaannya di alam kini kian terdesak.
Ia menjelaskan Tinuk tiba di Bandung pada tahun 2015 dibawa dari Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor melalui mekanisme pertukaran satwa. Ini menjadi wujud nyata kolaborasi yang baik terhadap kelestarian satwa langka antara TSI Bogor dan Bandung Zoo saat itu.
Pada April 2022 Tinuk dan pasangannya Marcel telah melahirkan seekor anak betina bernama Darpa Muda. Kini keduanya kembali menambah harapan baru bagi spesies ini.
“Tapir memiliki masa kebuntingan yang panjang, sekitar 13-14 bulan. Biasanya hanya satu anak lahir dalam satu periode,” jelas Ully. “Karena itulah setiap kelahirannya sangat berharga.”
Sejak tahun 2012 Bandung Zoo telah mencatat sekitar 10 kelahiran Tapir Asia. Pencapaian yang tidak mudah, mengingat satwa ini tergolong sensitif dan lambat bereproduksi.
Tapir Asia adalah jenis terbesar dari empat spesies tapir di dunia, sekaligus satu-satunya yang hidup di Asia. Penampilannya unik dengan tubuh seperti terbungkus selendang besar berwarna putih yang membelah bagian depan dan belakang tubuhnya yang hitam legam.
