Bandung (ANTARA) - Jajaran pemangku kebijakan di Provinsi Jawa Barat meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana ekologis di wilayah ini seiring dengan peningkatan cuaca ekstrem.
"Kita bisa melihat dari rangkaian apel kesiapsiagaan bencana tadi kita bisa memahami kekurangan-kekurangan yang ada pada kita seperti apa," kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana di kawasan Gedung Sate Bandung, Rabu.
Dedi Mulyadi menjelaskan, apel siaga tersebut penting untuk mengidentifikasi kekurangan peralatan. Berkaca dari pengalaman bencana di Sukabumi, ia menyoroti sulitnya transportasi menembus lokasi bencana akibat infrastruktur yang hancur sehingga butuh penguatan peralatan dan pengadaan fasilitas kesehatannya.
Selain itu, Dedi juga menekankan perlunya penguatan koordinasi lintas instansi di Jawa Barat yang pusat komandonya akan didirikan di lima kantor gubernur.
Sementara itu, Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Rudi Setiawan, yang menginisiasi apel tersebut, mengatakan data kebencanaan di Jabar sangat serius, yang dari awal tahun 2025 ada ribuan bencana yang terjadi.
"Berdasarkan data di Jawa Barat, terakhir ini sudah 25 kejadian pada bulan November, dan sejak Bulan Januari ada 1.500-an bencana yang terjadi. Oleh sebab itu kita perlu serius," kata Rudi.
Kapolda menegaskan, Jawa Barat tidak bisa menangani sendiri, melainkan harus melibatkan seluruh komponen di bawah kepemimpinan Gubernur.
Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi juga menyoroti tantangan budaya masyarakat yang dinilainya masih abai terhadap peringatan dini.
"Culture orang Indonesia ini gak percaya sama BMKG, tidak percaya pada early warning. Tapi lamun geus boga batu (Tapi kalau sudah kena bencana), baru percaya. Ini harus dibenerin. Kita punya komponen darat, laut, udara, dan kepolisian. Mudah-mudahan menjadi jalan bagi penyelesaian berbagai problem masalah yang ada," tuturnya.
Dalam apel ini sendiri, diturunkan sebanyak 2.500 personil gabungan, mulai dari Polri, TNI, BPBD dan juga relawan yang diikutsertakan.
